Bertahun-tahun Dilanda Konflik, Begini Parahnya Kehancuran di Aleppo

Damaskus – Kota Aleppo, Suriah kini dipenuhi puing di setiap sudutnya. Gedung-gedung yang sebelumnya berdiri megah, kini kebanyakan rata dengan tanah. Dinding-dinding bangunannya dipenuhi lubang bekas peluru.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (16/12), sebagai kota terbesar kedua di Suriah, Aleppo sebelumnya menjadi pusat perekonomian berkembang. Kota ini juga dihiasi berbagai situs-situs kunonya. Namun kini semuanya hancur tinggal puing.

Read More

Selama beberapa tahun terakhir, sejak konflik Suriah pecah tahun 2011, warga Aleppo tinggal di tengah situasi yang jauh dari nyaman. Beberapa orang memilih tetap tinggal di rumah mereka, dengan kondisi sekitar yang luluh lantak akibat pertempuran sengit pemberontak dengan pasukan rezim Suriah.

Pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad dengan didukung sekutunya seperti Rusia, Iran dan milisi-milisi Syiah berupaya keras merebut kembali Aleppo dari tangan pemberontak. Menguasai Aleppo selama bertahun-tahun menjadi bentuk perjuangan pemberontak untuk melengserkan rezim Assad.

Sejak tahun 2012, pemberontak oposisi menguasai wilayah Aleppo. Untuk merebut kembali kota terbesar kedua di Suriah itu, militer rezim Assad melancarkan serangan besar-besaran, dengan didukung pesawat-pesawat perang Rusia, sekutu rezim Assad. Hingga akhirnya gencatan senjata demi memuluskan evakuasi warga sipil disepakati pekan ini. Kesepakatan dicapai antara Turki yang mendukung pemberontak Suriah dengan Rusia, sekutu rezim Assad.

Proses evakuasi telah dimulai sejak Kamis (15/12) waktu setempat. Di tengah kepulan asap pekat, warga Aleppo mengumpulkan barang-barang pribadi mereka yang akan dibawa mengungsi. Sedangkan barang-barang yang tidak bisa dibawa, namun tidak ingin dijarah pasukan rezim Assad, mereka bakar.

Komisi Palang Merah Internasional (ICRC) menyebut sekitar 3 ribu warga sipil dan lebih dari 40 korban luka, termasuk anak-anak telah dievakuasi. Namun masih ada sekitar 50 ribu warga yang terperangkap di Aleppo.

Beberapa area di Aleppo masih dikuasai pemberontak, namun sebagian besar telah dikuasai pasukan rezim Assad. Warga yang tidak ingin tinggal di area yang dikuasai pasukan pemerintah, melarikan diri lebih dalam ke area yang dikuasai pemberontak.

Menurut media Wall Street Journal, mereka yang kabur, kebanyakan khawatir akan ditahan, disiksa atau dieksekusi mati oleh pasukan pemerintah Suriah. PBB menyatakan pada Selasa (13/12), ada laporan pasukan propemerintah Suriah menghabisi 82 warga sipil usai mengambil alih area yang sebelumnya dikuasai pemberontak.(mb/detik)

Related posts