Merubah Paradigma Pemuda Minang

Ezapendri, Calon Ketua Generasi Muda Minang (Gema Minang) Batam

Metrobatam.com, Batam – Musyawarah Generasi Muda Minang (Gema Minang) yang akan diselenggarakan 25 Februari 2017 mendatang merupakan momentum yang tepat untuk merubah paradigma (cara pandang) pemuda Minang agar organisasi berkembang sesuai tuntutan zaman dan bermafaat untuk kemajauan Pemuda Minang.

“Saat ini zaman sudah berubah. Sekarang kita memasuki era globalisasi persaingan bebas. Pemuda Minang hari ini jangan hanya mengandalkan otot tapi harus mengandalkan otak. Maksudnya ketua Gema Minang kedepan harus pemikir dan intelektual yang bisa mencari solusi bagi masalah Pemuda Minang hari ini dan kedepan. Ketua Gema Minang harus bisa membuat program kerja yang bisa memberdayakan pemuda dari segala bidang. Untuk itu, pola pikir dan ketua calon ketua Gema Minang harus sejalan dengan perkembangan zaman. Kalau tidak Pemuda Minang di rantau hanya sebagai objek dan penonton saja. Karena itu, saatnya pemuda Minang mengubah paradigma dalam berorganisasi,” kata Eza Pendri, yang juga kandidat calon Ketua Gema Minang ketika diminta tanggapannya sehubungan dengan akan digelarnya Musyawarah Besar (Mubes) Generasi Muda (Gema) Minang ini.

Read More

Menurut Eza, sosok ketua Gema Minang kedepan harus memiliki kriteria, antara lain intelektual muda yang memiliki pola pikir terbuka dan memiliki jaringan luas. Selain itu, yang sangat penting sekali adalah calon Ketua Gema Minang kedepan tidak memiliki masa lalu di kepengurusan Gema Minang sebelumnya, sebab kepengurusan yang lalu dianggab gagal menciptakan kader yang mampuni melanjutkan tongkat estafe kepemimpinan. Ketua terpilih nantinya harus memiliki jati diri sendiri dan tidak berada dibawah bayang-bayang seseorang atau kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Selanjutnya, ketua Gema kedepan juga harus mampu membangun komunikasi dengan organiasi pemuda Kabupaten/kota yang ada. Sebab masalah yang terjadi selama ini adalah Ketua Gema Minang tidak mampu menggandeng dan melupakan organisasi pemuda kabupaten/kota di Sumatera Barat.

“Pengurus selama ini tidak membuka diri merangkul pemuda-pemuda Minang lainnya diluar organisasi sehingga muncul organisasi kepemudaan Minang lainnya yang malahan kegiatan lebih berjalan dan bahkan jumlah anggotanya lebih besar. Kedepan, saya berpendapat organisiasi pemuda Minang Kabupaten/kota dan organisasi otonom lainnya harus bersinergi dan bekerjasama dengan induk Organisasi Pemuda Gema Minang,”ujarnya.

Dari segi umur, Menurut Eza, panitia Mubes seharusnya juga menetapkan batas maksimal umur calon ketua yang ingin mendaftarkan diri. Hal ini penting agar terjadi regenerasi diorganisasi pemuda Minang ini. “Harus ada keberanian dan kesepakatan dari panitia Mubes untuk membatasi usia maksimal mungkin hingga 45 tahun, agar terjadi regenerasi dan orang-orang yang memimpin Gema Minang tidak berasal dari lingkaran itu ke itu saja sehingga sulit berkembang. Yang sudah senior dan tua, sudah lah. Gak usah ikut lagi lah maju jadi calon ketua. Naik kelaslah ke IKSB, malu sama yang muda dan anak mereka sendiri yang juga sudah jadi pemuda,” tegas Eza lagi.

Mubes ini adalah momentum untuk merubah kesalahan-kesalahan masa lalu pengurus. Untuk itu, dia berharap Panitia Mubes bisa menyelenggarakan secara terbuka dan fair. Jangan ada kebijakan yang menguntungkan salah satu kandidat sehingga. Selain itu, panitia Mubes harus terbuka menerima masukan dari berbagai pihak dan tidak alergi terhadap kritikan. Sebab masukan itu penting jika memang ingin merubah organisasi Gema Minang yang bisa dicintai dan dimiliki oleh Pemuda Minang.
(mb)

Related posts