Polri Menilai Bom Panci Merupakan Pesan dari Markas Besar ISIS

Metrobatam, Jakarta – Lagi-lagi, online training (pelatihan secara online) menjadi andalan bagi kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), untuk mengajarkan para jihadisnya merakit bom.

Hal ini kembali terjadi kepada Yayat Cahdiyat Cs, pelaku teror bom panci di Taman Pandawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Bandung, Jawa Barat. Yayat bersama dua tersangka lainnya yakni Agus Sujatno alias Abu Muslim, dan Sholeh alias Abu Fursan ini tergabung ke dalam kelompok sel ISIS di Indonesia yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Read More

Partner Yayat, Agus ternyata adalah tenaga ahli di bidang listrik untuk apartemen. Sementara Sholeh adalah pedagang susu keliling. Cukup hanya dengan mengakses dari dunia maya, nyatanya mereka mampu membuat bom kendati berdaya ledak rendah seperti bom panci yang meledak di Taman Pandawa tersebut.

“Umumnya mereka belajar dari yang disebut sebagai online training. Fenomena online training sudah menjadi tren di kalangan pelaku kejahatan aksi teror,” kata Kabag Humas Mabes Polri Boy Rafli Amar di Kompleks Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (13/3).

Boy sendiri mengakui ilmu perakitan bom sudah bersifat umum yang mudah sekali di akses melalui portal online. Bahkan teror menggunakan bom panci, kata mantan Kapolda Banten ini merupakan cara teror yang sudah dihembuskan oleh markas besar ISIS.

“Bom panci ini menjadi bom yang dihembuskan oleh markas besar ISIS. Jadi mereka dalam melakukan aksi menggunakan cara-cara yang seperti ini. Kecil namun efektif dalam menyampaikan pesan teror,” katanya.

ISIS dewasa ini, kata Boy telah memperhitungkan secara matang untuk melancarkan pesan terornya. Sebab jika mereka melakukan dengan cara “frontal” mereka menyadari kekuatan yang mereka miliki tidak sepadan dengan kekuatan dari orang yang mereka anggap musuh.

“Karena teror ini kan mereka sudah berhitung. Kalau dia berhadapan dengan cara frontal, kekuatan yang mereka miliki tidak sepadan jika berhadapan dengan state aktor,” katanya.

“Makanya strategi penyerangan mereka ganti dengan cara seperti ini. Karena dalam pandangan mereka kalau motif teror itu pesannya sampai. Mereka dapat penilaian eksis kemudian mereka ingin orang peduli dengan apa yang mereka inginkan. Jadi pesan-pesan teror memang lebih masif walaupun dari efek peristiwa itu kategorinya aksi-aksi yang sifatnya parsial,” tukasnya.(mb/okezone)

Related posts