Ramai di Medsos, Propam Usut Penganiayaan oleh Polisi di Batam

Metrobatam, Jakarta – Seorang warga Batam bernama Said Ahmad Lutfallah mengaku mendapat penganiayaan dari 6 oknum aparat polisi dari Sabhara Polda Kepri. Akibatnya, Said mengalami sejumlah luka tubuhnya.

Said menuliskan peristiwa penganiayaan yang dialaminya itu di akun Instargramnya, @sydahmdlutfllhaledrus yang kemudian ramai jadi perbincangan. Dilihat detikcom, Senin (13/3), Said mengunggah fotonya yang tampak mengalami luka di wajah dan mata kiri di akun Instagram-nya.

Read More

Saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Said membenarkan tulisannya di akun Instagram tersebut. Dalam tulisannya, dia menceritakan peristiwa itu terjadi Januari lalu. Saat itu dia bersama seorang rekannya sedang berhenti di depan Sekolah Mondial, Batam sekitar pukul 02.30 WIB.

Lalu, Said dan rekannya didatangi oleh 6 orang oknum aparat polisi yang sebagian menggunakan baju bebas. Hanya berbincang beberapa detik, mereka mendapat pukulan tanpa ada salah masalah.

“Kami berdua dikeroyok habis-habisan seperti binatang, seperti maling oleh mereka dengan seenaknya. Ini lah tindakan oknum aparat yang baru jadi dan tidak berpendidikan, menunjukkan keegoisan mereka yang brutal, mengeroyok saya dan teman saya yang tidak membuat masalah dan menganggu oknum aparat tersebut apa pun di tempat kejadian, satu tindakan yang tidak pantas, apakah ini adil?,” ujar Said.

Akibat kejadian tersebut, Said dan rekannya melapor ke Polsek Bengkong karena mengalami kekerasan dan beberapa barang berharga mereka hilang. Mereka juga menyertakan laporan visum dari rumah sakit sebagai bukti adanya tindakan kekerasan di bagian tubuh mereka.

Namun setelah diinterogasi oleh penyidik, Said mengaku justru mendapat ancaman berupa tuduhan pelaporan palsu dengan ancaman 7 tahun penjara. “Yang diherankan setelah para pelaku berhasil diketahui unit Reskrim Polresta Barelang karena kasus kami dilimpahkan di sana, kami mengalami tekanan karena laporan kami dan laporan kami mendapatkan tindakan perlawanan dari polisi dengan tuduhan kalau kami dituduh palsukan laporan yang kami buat sampai kami diancam bakal dipidana 7 tahun penjara,” ujarnya.

Kata Said, sempat terjadi mediasi. Namun pasca mediasi itu tidak ada lagi kebijakan dari pihak polisi. Said berharap proses hukum tetap berjalan.

“Kami melaporkan apa yang kami alami, salah kah saya dan rekan saya? Apa ini namanya keadilan? Setelah itu sampai terjadinya mediasi perdamaian, tapi setelah pertemuan mediasi, tidak ada lagi kebijakan mereka sampai detik ini,” ujarnya.

“Bagaimana kalau ini terjadi dengan keluarga kalian? Tolong bantu sebarkan supaya hukum dapat ditegakkan karena hukum itu yang saya tahu equality before the law,” tutup Said yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang, Jawa Tengah ini.

Dikonfirmasi mengenai posting dari Said ini, Kapolres Barelang Kombes Helmy Santika mengatakan Divisi Provesi dan Pengamanan (Propam) Polri sudah bergerak. “Sudah disidik maupun ditangani secara internal,” kata Helmy.

(mb/sumber : detik)

Related posts