Wiranto : Ancaman Terbesar Indonesia Adalah Perpecahan!

Metrobatam, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menyebut bahwa ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia adalah perpecahan yang berasal dari dalam negeri sendiri. ‎Selain itu, ancaman lainnya yang perlu diwaspadai adalah berasal dari ‎luar.

Hal tersebut disampaikan Wiranto saat memberikan sambutan dalam Perayaan Capgome bersama 2017 yang diadakan oleh Forum Bersama Indonesia Tionghoa (FBIT) yang bertajuk ‘Bekerja Keras Mengatasi Kesenjangan untuk Menciptakan Kesejahteraan yang Lebih Baik dan Berkeadilan di Jakarta’.

Bacaan Lainnya

“Kejahatan narkoba, terorisme, radikalisme, korupsi, illegal logging, illegal fishing dan sebagainya, itu ada dan kelihatan. Tapi, sebenarnya yang sangat berbahaya adalah ancaman perpecahan dari bangsa sendiri,” kata Menko Polhukam Wiranto, Senin (20/3).

Wiranto mengatakan, ‎masyarakat harus mampu menetralisasi berbagai ancaman tersebut dengan merajut kembali kebersamaan sebagai bangsa dan menghidupkan kembali semangat bertoleransi. Jadi, diharapkan masyarakat dapat merasakan penderitaan warga lainnya dan bersedia memberikan pertolongan guna meringankan permasalahan warga tersebut.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang penduduknya paling besar beragama Islam. Tapi, ketika negara ini didirikan, para tokoh Islam tidak memaksakannya sebagai negara Islam. Itulah semangat toleransi, mengingat masih ada agama lainnya yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Semangat seperti itulah yang harus kita rawat dan kita jaga,” terang Wiranto.

Mantan Panglima ABRI itu menambahkan, tema Capgome yang diangkat saat ini telah tepat untuk mengatasi kesenjangan sosial dan menciptakan kesejahteraan. “Saya mengajak masyarakat Tionghoa untuk menghidupkan kembali semangat toleransi sebagai basis untuk menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan,” imbuhnya.

Wiranto menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengajak masyarakat Tionghoa untuk bersama-sama pemerintah dalam memperkecil angka kesenjangan di Tanah Air. Ia melanjutkan, secara rasio angka tersebut telah menurun, namun masih harus terus dilakukan upaya secara optimal untuk mengatasinya.

“Jangan biarkan pemerintah kerja sendiri, masyarakat harus membantu. Saya ajak masyarakat Tionghoa berperan serta membantu pemerintah untuk mengatasi kesenjangan, menciptakan keadilan dan kesejahteraan,” ujar Wiranto.

Ia menegaskan pentingnya untuk bertoleransi dalam kehidupan bermasyakarat. Sebab itu, membangun toleransi dapat dilakukan dua cara. Pertama, kata Wiranto, dengan cara menahan diri, tidak suka pamer hingga memperlihatkan kekayaan dan kekuatan kepada masyarakat yang masih kekurangan.

“Kedua, dengan cara membantu mereka yang membutuhkan bantuan dengan cinta kasih. Apabila hal itu telah dilaksanakan niscaya akan terbangun kepercayaan dan kecintaan antara sesama warga masyarakat,” jelas Wiranto.

Ia pun memberikan tiga pesan khusus kepada masyarakat Tionghoa di acara Capgome tersebut. ‎Pertama, ujar Wiranto, warga etnis Tionghoa harus merasa memiliki negeri ini. Kedua, setelah merasa memiliki, masyarakat harus wajib membela negeri ini, bukan hanya membela negara, melainkan membela masyarakat dan para kaum fakir miskin serta dhuafa.

Selanjutnya, Wiranto menyatakan, masyarakat Tionghoa harus mampu selalu mengintrospeksi diri seberapa besar sumbangan yang telah diberikan kepaada negeri ini. “Kalau tiga hal ini dapat dilaksanakan maka Capgome ini merupakan kebangkitan kita sebagai bangsa utamanya masyarakat Tionghoa untuk membangun kebersamaan, membangun toleransi, dan memberikan sumbangsih untuk mengatasi kesenjangan,” tandas Wiranto.(mb/okezone)

Pos terkait