Diteriaki Maling oleh Kerabat Sendiri, Nur Jamal Tewas Diamuk Massa

Metrobatam, Tebing Tinggi – Aksi persekusi berujung maut kembali terjadi. Seorang siswa kelas II di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Tebing Tinggi bernama Nur Jamal meregang nyawa pada Minggu 25 Juni 2017 silam. Meski kejadiannya sudah lama, namun kisahnya mendadak viral usai tersebar luas melalui media sosial facebook.

Sebuah akun facebook @Yuni Rusmini yang memposting kisah memilukan ini menyebutkan, pelajar berusia 17 tahun itu diamuk massa usai diteriaki maling oleh pria yang masih kerabatnya sendiri.

Bacaan Lainnya

Ironisnya, tragedi itu terjadi tepat di Hari Raya Idul Fitri yang lalu, di mana seharusnya hari tersebut menjadi momen spesial bagi umat muslim di seluruh dunia untuk saling memaafkan satu sama lain.

Ngatiman (60), ayah korban tak bisa menyembunyikan kesedihan mendalam pada raut wajahnya. Ia masih teringat peristiwa kelam yang menimpa anak bungsunya itu pada perayaan Lebaran 1 Syawal 1438 Hijriah.

Putra bungsunya itu tewas mengenaskan setelah dianiaya membabi buta oleh massa yang brutal atas tuduhan hendak mencuri sepeda motor. Aksi persekusi maut ini terjadi di Dusun III, Kampung Banten, Desa Paya Lombang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Peristiwa bermula kala pagi itu menjelang siang almarhum Nur Jamal berpamitan kepada ibunya Sutinem (52) untuk bermain bersama temannya sembari berbagi kebahagiaan di hari raya.

Almarhum sempat meminta uang Rp15.000 kepada ibunya yang bekerja sebagai penjual tape keliling. Sutinem sama sekali tak menyangka jika momen itu menjadi pertemuan terakhirnya dengan si bungsu. Warga Jalan Koperasi, Kelurahan Karya Jaya, Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara itu kaget bukan main bak disambar petir di siang bolong saat mengetahui Nur Jamal tewas diamuk massa karena dituduh mencuri sepeda motor di kampung lain.

Si bungsu yang memiliki cita-cita menjadi anggota TNI ini pun kini pergi untuk selamanya. Kisahnya akan terus dikenang oleh orangtua dan keluarganya yang tentunya meninggalkan sejuta kepedihan yang menyayat hati.

Suparli salah seorang kakak Nur Jamal menuturkan, malam setelah kejadian, polisi sempat menyambangi rumah duka untuk menanyakan apakah almarhum akan diautopsi atau tidak. Namun, pihak keluarga dengan tegas menyatakan agar jenazah tidak usah diautopsi, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu.

“Kami bilang enggak usah (diautopsi) karena kami orang tak mampu dan autopsi mahal. Habis itu polisinya memfoto jenazah dan pergi,” ucap Suparli.

Keesokan harinya setelah dimandikan dan disalati, para kerabat dan sejumlah warga pun mengantarkan jenazah Nur Jamal ke TPU Islam Gang Ikhlas, yang tidak jauh dari kediaman mereka. Usai acara pemakaman, informasi dan cerita tentang tewasnya Nur Jamal pun kian sampai ke telinga mereka. (mb/okezone)

Pos terkait