Video ‘Suster Suntik Mayat’ Beredar, Ini Respon Polisi

Metrobatam, Surabaya – Belum tuntas dugaan pelecehan pasien dan calon perawat di Surabaya, publik digegerkan kembal digegerkan beredarnya video dugaan kelalaian penanganan medis di sebuah rumah sakit yang berujung meninggalnya seorang pasien.

Video berdurasi 3 Menit 10 detik itu menggambarkan keluarga pasien murka kepada dokter dan perawat yang dituduh menelantarkan sang ibunda.

Read More

Terdengar suara seseorang pria dan wanita dari keluarga marah. Keduanya menyesalkan sikap dokter spesialis dan perawat yang tidak mengetahui jika pasien sudah maninggal dunia ketika penanganan medis berlangsung. Bahkan pasien yang sudah meninggal disebutnya masih mendapat suntikan dari perawat.

“Sampeyan itu berarti tadi nyutik-nyuntik mayat. Sampeyan sudah tahu, ta banting. Ndak gitu, masak seorang suster nyuntik mayit ga tahu. Ini bukan nyuntik pasien tapi nyuntik mayit,” kata seorang wanita keluarga pasien dengan nada emosional.

“Biar tahu semua rumah sakit ini tahu seorang suster nyuntik mayit bukan nyuntik pasien,” tambahnya.

Seorang dokter pria berusaha memberi penjelasan, tapi jawabannya dinilai keluarga korban tidak memuaskan. Sang dokter berusaha menenangkan karena dikhawatirkan mengganggu pasien lain.

“Kasihan yang sakit? Lha saat ibu saya sakit bagaimana? Tidak bisa, biar tahu semua,” teriak si wanita.

“Kalau Anda perlakukan pasien kayak ibu saya, bisa mati semua,” timpal seorang pria.

Dalam video yang direkam melalui smartphone itu, terlihat amuk keluarga pasien tersebut menjadi tontonan keluarga pasien yang lain. Video viral tersebut mendapat perhatian penegak hukum. Polisi sudah menggali informasi tersebut.

“Dari penyelidikan awal bahwa rumah tersebut adalah RS SK di Sidoarjo,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Senin (29/1).

Barung meminta keluarga segera melaporkan ke polisi meskipun penggalian informasi oleh polisi sudah dilakukan.

“Walau langkah awal dari polisi tapi diharapkan keluarga yang merasa dirugikan melaporkan ke kepolisian,” kata Barung. (mb/detik)

Related posts