Akibat Kekeringan, Ratusan Hektar Sawah di Aceh Terancam Gagal Panen

Metrobatam, Banda Aceh – Nasib malang kembali dirasakan petani. Hujan yang telah lama tak mengguyur sebagian daerah Aceh membuat para petani mengalami kekeringan air di sawah. Hal itu terlihat seperti di beberapa desa Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, yang menampakkan seluas 150 hektar tanaman padi terancam gagal panen karena kekeringan.

“Air di sungai hampir kering, sekarang walau rugi besar, ya apa boleh buat ini yang terjadi, karena padi kita tanam telah habis tahun ini, ya kami terpaksa beli beras,” kata Kepala Desa Lamsie Mundasir saat ditemui Okezone, usai mengaliri air ke sawahnya, Selasa (20/2).

Read More

Selama ini, katanya, masyarakat terpaksa harus bermalam di hamparan sawah mereka untuk memasok air pada tanaman padi berumur muda yang mereka tanam tersebut. Bahkan, mereka telah menghabiskan modal yang besar untuk menyewa mesin pompa air berserta bahan bakarnya, guna membantu mereka mengairi sawah. Namun, padi yang mulai ditanam pada Desember lalu itu terancam gagal panen dan tidak akan tumbuh lagi karena tidak cukup pasokan air.

Dikatakan Mundasir, sawah yang terancam gagal panen tersebut seluas 150 hektar, yang merupakan lahan tandas hujan, berada di beberapa kawasan yakni, desa Lamsie, desa Barih Lhok, desa Lamkreng serta desa Tanoh Abe. Di samping itu, kata Mundasir, akibat lahan sawah yang dilanda kering tersebut, petani mengalami kerugian sebesar Rp6 juta per satu petak sawah.

“50 persen sawah di Kecamatan Kuta Cot Glie tandas hujan, pada tahun ini semuanya teracam gagal panen,” ujarnya.

Seorang petani, Nursa (50) warga Desa Barih Lhok mengatakan mereka telah berusaha untuk mengaliri sawah tersebut dengan cara memompa air dari sungai dengan mengunakan mesin pompa yang disewa sebesar Rp100 ribu per hari. Namun, uang habis tetapi padi di sawah juga tak mau tumbuh.

“Sekarang sudah habis minyak (bahan bakar) jenis premium 150 liter, selama satu bulan ini untuk mengairi sawah,” jelas Nursa.

Selain modal untuk mengairi sawah, mereka juga telah menghabiskan biaya untuk membajak, menanam, serta keperluan lainnya dan jika ditotalkan mencapai Rp5 juta.

“Iya seperti ini lah kondisinya, padi sudah kuning, kalau dalam minggu ini tidak turun hujan akan mati semua,” tandasnya.

Hal lain disampaikan petani bernama Edi, yang membiarkan begitu saja sawahnya dengan alasan karena tidak memiliki modal untuk menyewa pompa air. Dan mereka berharap, pemerintah memberikan bantuan untuk membuka irigasi untuk petani yang ada di kawasan tersebut.

”Padi saya sudah mati, saya tidak ada modal untuk melakukan pengairan. Sekarang musim sudah tidak menentu lagi, kita minta bantuan untuk bangun irigasi di sini, agar kami kembali lagi bisa bercocok tanam di sini,”pungkasnya. (mb/okezone)

Related posts