GP Ansor Nilai Kapolri Tak Perlu Klarifikasi Pidato

Metrobatam, Jakarta – Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyatakan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian tidak perlu memberi klarifikasi kepada ormas-ormas Islam terkait pidatonya yang menyebut hanya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang berperan dalam proses berdirinya negara Indonesia.

Menurut Yaqut, Tito tidak bermaksud mendiskreditkan peran ormas Islam lain dalam proses berdirinya negara Indonesia di masa lalu, sehingga tidak perlu memberikan klarifikasi.

Read More

“Enggak perlu. Apa yang perlu diklarifikasi,” ucap Yaqut di kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jakarta, kemarin.

Menurut Yaqut, Tito hanya menyampaikan bahwa NU dan Muhammadiyah memiliki peran besar dalam proses berdirinya negara Indonesia dibanding ormas Islam yang lain. Hal itu bukan berarti Tito tidak mengakui ormas Islam lain dalam memerdekakan Indonesia. Dia menampik anggapan tersebut.

“Ormas yang paling berjasa itu dua, NU dan Muhammadiyah. Itu yang dia (Tito) bilang dan sejarah memang mencatat itu,” Kata Yaqut.

Tito dikabarkan juga sempat menyebut ada ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah yang pernah berupaya meruntuhkan negara Indonesia. Namun, Yaqut menganggap Tito tidak mengutarakan hal tersebut.

“Saya kira Pak Tito enggak mengatakan itu. Saya mengerti betul pernyataannya,” katanya.

Yaqut mengamini, banyak ormas Islam yang turut berjuang memerdekakan Indonesia, tidak hanya NU dan Muhammadiyah. Meski begitu, dia berkeyakinan hanya dua ormas tersebut yang paling dominan dibanding ormas-ormas Islam lain dalam berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia.

“Semua berjasa tapi tidak sebesar jasanya NU dan Muhammadiyah karena ormas terbesar dan tertua,” kata Yaqut

“Wajar dong, NU dan Muhammadiyah lahir sebelum Indonesia merdeka,” katanya.

Tito Tetap Tenang

Sementara itu Mabes Polri menyebut, Kapolri Jenderal Tito Karnavian tenang menyikapi beredarnya potongan video pidato yang menyatakan hanya dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam berperan dalam berdirinya negara Indonesia. Pidato dalam video itu saat Tito menghadiri acara di Pondok Pesantren Annawawi pada 8 Februari 2017 silam.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal M Iqbal mengatakan, Tito sebagai sosok yang benar, jujur, dan tidak memiliki niat menyudutkan pihak manapun.

Tito akan mengambil langkah menjalin silaturahmi dengan sejumlah ormas Islam demi mengantisipasi situasi dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

“Kapolri tenang, tidak ada reaksi yang reaktif, karena memang orang benar dan jujur tidak akan ada apa-apa,” ujar Iqbal saat ditemui di Rumah Dinas Kapolri, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/1).

Iqbal menuturkan, Polri saat ini tengah fokus dalam mempersiapkan pengamanan jalannya Pilkada serentak 2018. Dia tak ingin ada pihak tertentu memanfaatkan situasi ini.

“Kami sedang mempersiapkan pengamanan pesta demokrasi, jangan sampai hal ini menjadi senjata kelompok ingin mengacaukan,” imbuhnya.

Terpisah Wakapolri Komjen Syafruddin menilai, video di media sosial yang menampilkan pidato Tito menyatakan hanya dua ormas Islam berperan dalam berdirinya negara Indonesia, tidak utuh alias dipotong-potong.

Menurutnya, Tito telah bertemu sejumlah ormas Islam untuk memberikan klarifikasi seputar hal tersebut.

“Itu dipenggal pidatonya, nggak utuh. Saya rasa Kapolri sudah klarifikasi kepada semua pihak. Kapolri maraton itu klarifikasi dan terakhir hari ini ormas Islam sudah bertemu,” katanya.

Pernyataan yang disampaikan Tito dalam sebuah pidato itu beredar lewat media sosial dan langsung mendapat protes keras dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain.

“Sikap dan pengetahuan Anda (Tito) tentang hal Ini sangat mengecewakan. Ada banyak Ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah yang ikut berjuang mati-matian melawan penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Halmahera,” kata Tengku di akun Facebook-nya.

MUI sendiri merespons protes Tengku Zulkarnain tersebut. MUI menegaskan protes Tengku Zulkarnain merupakan pernyataan pribadi, bukan atas nama kelembagaan MUI.

Sedangkan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) meminta Presiden Joko Widodo segera mencopot Jenderal Tito Karnavian dari jabatannya sebagai Kapolri karena telah menyudutkan umat Islam di luar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah melalui pidatonya soal ormas Islam. (mb/cnn indonesia)

Related posts