Makna di Balik Sowan Jenderal Tito ke Ormas Islam

Metrobatam, Jakarta – Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mendatangi sejumlah pemimpin organisasi kemasyarakatan (ormas) dan tokoh Islam dalam dua pekan terakhir.

Lebih dari tujuh orang pemimpin ormas dan tokoh Islam yang ditemui sang jenderal bintang empat sejak potongan pidatonya menjadi polemik di tengah masyarakat, Selasa pekan lalu.

Read More

Tito memulai sowannya dengan menemui Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam Hamdan Zoelva di rumah dinasnya, Jakarta Selatan, Rabu (31/1). Tito sempat menjadi imam salat dzuhur berjamaah di sela-sela pertemuan tersebut.

Kemudian, Tito melanjutkan sowannya ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), lalu menjenguk Solahuddin Wahid (Gus Solah), Selasa (6/2) yang tengah terbaring sakit, menyambangi kantor Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam Indonesia (DPP SII), serta sowan ke kediaman cendekiawan Islam Din Syamsuddin.

Mantan Kapolda Metro Jaya itu juga menjenguk kiai sepuh Majelis Taklim Al-Afaf, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, dan mengetuk pintu kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Timur.

Menurut Tito, safari yang dilakukan untuk membangun hubungan baik dengan seluruh elemen masyarakat, terutama dari kalangan umat Islam.

“Tidak ada sedikit pun kepentingan politik saya pribadi. Tidak ada. Jangan nanti diterjemahkan, wah ini Kapolri safari ke mana-mana, ada kepentingan politik. Tidak ada,” ucap Tito.

Bukan Safari Politik

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya berpendapat, langkah Tito menyambangi sejumlah pemimpin ormas dan tokoh Islam bukanlah safari politik.

Menurutnya, safari yang dilakukan Tito ini bertujuan untuk mendinginkan suasana yang memanas akibat potongan pidatonya menjadi polemik di tengah masyarakat, pekan lalu.

“Saya meyakini kalau mau melakukan safari politik tidak memanfaatkan momentum ketika ada kontroversi terhadap ucapannya. Itu bukan momentum tepat, saya lebih lihat ini respons untuk dinginkan suasana,” kata Yunarto kepada CNN Indonesia.com, Kamis (8/2).

Yunarto berkata, dalam situasi tertentu seorang kepala keamanan harus menyikapi hal yang bersifat politik, merespons persepsi publik, dan meredam tafsir kepentingan yang berbeda dengan melakukan sowan untuk meneduhkan suasana, dibandingkan mengeluarkan pernyataan baru yang justru berpotensi melahirkan tafsir lain.

Atas dasar itu, dia menilai langkah yang dilakukan Tito tepat, karena pidatonya telah menjadi sebuah kontroversi di tengah masyarakat, khususnya umat Islam

“Jadi langkah paling tepat saya kira melakukan sowan ke pihak yang bisa menenangkan suasana,” ujarnya.

Dia menilai hal ini tidak terkait dengan status Tito yang disebut oleh sejumlah kalangan akan menjadi calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo di 2019.

Yunarto berpendapat, sowan Tito ini juga tepat untuk melawan upaya pihak-pihak yang ingin membenturkan polisi dengan umat Islam.

“Ini juga mungkin saja tindakan tepat lawan upaya sekelompok orang yang ingin adu domba polisi dengan umat Islam,” ucapnya. (mb/cnn indonesia)

Related posts