Sebelum Lakukan Sodomi, Sekdes Ini Selalu Ancam Korbannya

Metrobatam, Banda Aceh – Wakapolres Aceh Barat Daya, Kompol Jatmiko mengatakan, MA (40), pelaku pelecehan seksual sodomi belasan anak di kabupaten setempat mengakui memaksa korbannya untuk melakukan aksi bejatnya. Dari pemeriksaan, pelaku mengaku mengancam akan memukul korban dengan besi kecil untuk melaksanakan aksinya.

“Awal mulanya para korban dipaksa, kalau tidak mau dipukul pakai besi kecil,” ujarnya Jatmiko di Mapolres Aceh Barat Daya, Kamis (1/2).

Read More

Tak hanya itu, dikatakan Jatmiko, dikarenakan para korban mendapatkan perlakuan demikian dari tersangka, anak-anak tersebut merasa kecanduan, bahkan kerap sekali meminta perbuatan haram tersebut. Diketahui, pelaku bekerja sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) di Desa Kuta Trieng, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan.

“Karena sudah sering melakukan, anak-anak kecanduan sering meminta, bahkan sesama anak-anak saling melakukan. Ini menurut pengakuan tersangka,’’ ujar Jatmiko.

Sementara itu, pihak sekolah korban mengakui bahwa anak-anak tersebut sering terlihat layaknya orang yang kosong pikiran, melamun, dan bahkan tidak konsentrasi terhadap aktivitas di lingkungan sekolah. Pengakuan guru kepada Jatmiko, para korban juga tidak percaya diri, menjadi penakut, dan pemalu.

“Lusuh, muka pucat, kehilangan gairah dan semangat hidup lemah dan turun. Pihak sekolah berharap bantuan dari pemerintah untuk tenaga ahli atau psikologi. Pihak sekolah juga berharap bantuan dari pemerintah untuk bidang olahraga seperti sepak bola, karena sebagian besar mereka menginginkan sepak bola,” ucapnya.

Di samping itu, kondisi sekolah tersebut juga sangat memprihatinkan. Sebab itu, pihak sekolah juga mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk sejumlah fasilitas sekolah yang kurang memadai, seperti sarana prasarana, mushala, bak dan tower air. Pihak sekolah juga menginginkan adanya rehabilitasi terhadap bangunan yang rusak.

“Ini yang disampaikan ke kita saat berkunjung ke sekolah tadi. Kita juga akan sampaikan hal ini kepada pemerintah atau pihak terkait,” cetus Jatmiko.

Sementara itu, Kasat Reskrim, Iptu Zulfitriadi yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, yang terpenting saat ini adalah penanggulangan para korban. Mereka membutuhkan orang yang mampu memberi dorongan motivasi, dan mengembalikan semangat hidup anak-anak tersebut.

“Kita harapkan pemerintah bisa memperhatikan para korban melalui P2TP2A. Itu yang penting sekarang, karena mereka sekarang membutuhkan pendampingan,’’ ujarnya kepada Okezone.

Zulfitriadi juga mengatakan kini kasus tersebut masih dalam penyidikan dari polisi. Polisi masih mengambil keterangan dari para saksi korban, termasuk pada pelaku. ’’Saat ini kita masih penyidikan, masih mengambil keterangan saksi korban,” pungkasnya. (mb/okezone)

Related posts