Polisikan Penumpang yang Buka Pintu Darurat karena Bom, Lion Air Dikecam

Metrobatam, Jakarta – Maskapai Lion Air melaporkan ke polisi seorang penumpang pesawatnya karena membuka pintu darurat saat Frantinus Nirigi, penumpang lainnya bercanda membawa bom yang membuat seisi pesawat rute Pontianak-Jakarta itu heboh. Pengamat penerbangan, Alvin Lie mengecam tindakan Lion Air tersebut.

Penumpang tersebut dilaporkan Lion Air karena dianggap merusak properti pesawat kode penerbangan JT 687 yakni membuka paksa jendela darurat (emergency exit window) di bagian kanan akibat panik karena ada pengumuman pesawatnya ada ancaman bom. Pesawat saat itu sedang di Bandara Supadio Pontianak bersiap lepas landas menuju Jakarta.

Read More

“Terkait tindakan Lion Air mempolisikan penumpang yang membuka jendela darurat saya menilai ini juga tidak patut,” kata Alvin kepada Okezone, Rabu (30/5).

Menurut Alvin, selama Mei ini terdapat sembilan peristiwa ancaman bom di dalam pesawat. Dari sembilan peristiwa itu, delapan di antaranya terjadi pada maskapai milik Lion Air Group.

Alvin menyesalkan, pihak Lion Air selalu tak mempermasalahkan pelaku yang mengembuskan isu adanya bom di dalam pesawat. Namun, Lion Air justru mempolisikan penumpang yang membuka jendela darurat akibat panik mendengar adanya ancaman bom.

“Berapa kali Lion Air mengalami ancaman bom dan tidak ada satupun yang dipolisikan. Diperiksa selesai lepas. Lion Air juga tidak mempermasalahkan. Nah giliran ada penumpang yang panik kemudin mencoba menyelematkan diri dengan membuka jendela darurat, lion air sedemikian gesitnya melaporkan pada polisi,” tutur Alvin.

“Ini aneh apakah mungkin ini dilandasi biaya untuk memulihkan jendela darurat itu yang biayanya bisa puluhan juta rupiah untuk satu jendela. Sedangkan yg menyebbkan semuanya ini tidak dipolisikan oleh Lion Air,” imbuh Alvin.

Alvin yang juga komisioner di Ombudsman Republik Indonesia (ORI) berharap pemerintah membela penumpang yang dipolisikan ini. Menurut Alvin tindakan yang dilakukan orang tersebut adalah tindakan yang manusiawi akibat kepanikan yang melanda orang tersebut dan penumpang lainnya.

“Saya berharap pemerintah juga memberikan perlindungan pembelaan terhadap manusia yang mencoba menyelamatkn diri dengan membuka jendela darurt yang saya nilai itu adalah tindakan manusiawi,” tegas Alvin.

Nigiri Jadi Tersangka

Polresta Pontianak telah menetapkan Frantinus Nirigi, penumpang maskapai Lion Air, sebagai tersangka kasus candaan bom, Senin (28/5) malam, yang berdampak menimbulkan kekacauan.

“Penetapan FN sebagai tersangka setelah dilakukan gelar perkara dengan kesimpulan, bahwa perbuatan FN melanggar pasal 437 ayat (1) dan (2), Undang-Undang Nomor 1/2009 tentang Penerbangan,” kata Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Nanang Purnomo, Selasa (29/5/2018) malam.

Ia menjelaskan, dengan ditetapkannya FN sebagai tersangka, maka dia (FN) langsung dilakukan penahan, karena dikhawatirkan melarikan diri.

Gelar perkara dilakukan, Selasa malam sekitar pukul 19.30 WIB bertempat di ruang kerja kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kalimantan Barat.

Adapun peserta gelar perkara tersebut, diantaranya, Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol M Husni Ramli, kemudian Kasubdit PPNS Penerbangan Ditjen Hubungan Udara Kemenhub, Budianto; dan PPNS Penerbangan Ditjen Hubungan Udara Kemenhub, yakni M Anshar, Nursyamsu, dan Aditya P R, serta beberapa tim penyidik dari Polresta Pontianak.

Penerima Beasiswa

Frantinus Nigiri, penumpang Pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 687 yang terjerat kasus informasi bom, merupakan mahasiswa penerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua. Dengan dana beasiswa itu, ia kuliah di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), pada tahun ajaran 2009/2010.

Pria asal Wamena ini mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip). Selama menempuh pendidikan di Bumi Khatulistiwa, ia belum pernah pulang ke kampung halamannya.

Bahkan, untuk bisa pulang ke kampung halamannya ia harus merogoh kocek sampai Rp10 juta. Dari Jayapura ke tempat asalnya, disebut Pardi, harus memakan waktu empat jam perjalanan. Nigiri juga dikabarkan pernah menjadi kuli bangunan untuk menambah biaya hidup dan kuliah di Kalbar.

Nigiri pun berhasil menamatkan kuliahnya, pada Mei 2018, dan ia hendak pulang ke Wamena pada Senin 28 Mei 2018 malam. Dari Bandara Internasional Supadio Kubu Raya, dia dijadwalkan terbang ke Jakarta (transit) pada pukul 18.40 WIB. Namun, karena dia dituduh melakukan candaan bom, maka penerbangan dibatalkan. Semua penumpang panik hingga berjatuhan.

Akibatnya, Nigiri diamankan polisi untuk diperiksa. Ihwal ini, Pardi yang juga dosen pembimbing Nigiri, seakan tak percaya hal itu dilakukannya. Pardi juga tidak menampik kemungkinan ada stigma dalam melihat penampilan Nirigi.

“Kesannya keras. Padahal tidak kok. Semoga apa yang dituduhkan tidak benar,” harapnya.

Ia menyebutkan, Nigiri memang logat bicaranya cepat. “Saya saja selalu minta dia mengulang kalimat jika ada yang tidak jelas. Bisa jadi dan mungkin saja ini salah dengar,” ujarnya.

Dekan Fisip Untan, Sukamto pun memiliki pandangan serupa mengenai Narigi. Di mata sang dosen, Nigiri merupakan sosok mahasiswa yang berperangai baik. Bahkan, sepengetahuannya tidak pernah bertingkah aneh.

“Walau dari sisi akademi dia tidak menonjol. Itu yang saya tahu. Bukan berarti ini membela dia, tapi memang itu kenyataannya selama dia jadi mahasiswa,” katanya.

Maka dari itu, Sukamto meminta kepolisian harus bijak menangani kasus ini. Harus menyimpulkan dari dua sisi. Baik dari pramugari dan Nigiri.

“Jangan hanya melihat dari satu sisi saja. Ini lebih kepada masalah miskomunikasi, bila saya melihat berita yang beredar. Dialek orang timur memang berbeda dengan dialek kita jadi terasa asing. Terutama karena kita ini juga lagi dirundung kekhawatiran akibat bom beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Sukamto menambahkan, karena Nigiri sudah berstatus alumni, pihak Fisip tidak mempunyai tanggung jawab apa-apa terhadapnya.

“Kecuali bila dia masih mahasiswa. Jadi, jangan jadikan kasus ini diarahkan pada lembaga. Jadi, lebih bijaksana lah dalam melihat kasus ini,” pintanya. (mb/okezone)

Related posts