56 Siswa SMP Sayat Tangan Sendiri, Pemerintah Didesak Blokir Konten Kekerasan Anak

Metrobatam, Pekanbaru – Ada temuan 56 siswa SMP 18 Pekanbaru, Riau yang melakukan aksi sayat tangan sendiri sangat disesalkan. Tayangan video yang tak layak untuk anak dianggap sebagai biang keladi yang menyebabkan mereka nekat menyiksa diri dengan menyayat tangan.

Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR), Roesmaini menjelaskan, banyak hal yang harus dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang lagi. Pemeritah diminta turun tangan.

Read More

“Pemerintah diminta turun untuk menangani masalah ini. Salah satu yang harus diambil formulanya, bagaimana memblokir situs yang tidak layak ditonton anak termasuk kekerasan dan prilaku menyimpang,” ucap Roesmaini kepada Okezone, Selasa (2/10).

Selain itu, peran orangtua tentu sangat penting untuk mengawasi anak. Kepada orangtua diminta untuk tidak memberikan handphone berbasis android ataupun smartphone yang sangat rawan disalah gunakan. Jika pun menggunakan harus sepengetahuan dan dalam pengawasan orangtua.

“Jangan biarkan anak anak bebas menggunakan handphone. Bila perlu jangan diberikan. Jika pun terpaksa diberikan harus dalam pengawasan. Jika handpohe anak sudah diberi kunci, patut dicurigai mereka ada mengakses maupun menonton hal yang tidak layak. Jadi butuh peran semua pihak termasuk pihak sekolah,” urainya.

Kepala Sekolah SMP 18 Pekanbaru Lily Deswita sangat berharap agar pemerintah terkait seperti Kementerian Kominfo serius untuk memblokir situs tidak layak untuk anak. Situs tidak pantas untuk anak yang saat ini mudah diakses sangat gampang merusak generasi muda.

“Sudah seharusnya pemerintah mencari cara untuk memblokir tayangan yang berbahaya untuk anak. Anak anak mudah meniru sesuatu tanpa mengetahui dampaknya. Mereka sangat labil. Kemarin pemerintah sudah bisa memblok situs porno, jadi kita harap tayangan di media sosial yang tidak layak diblok juga,” harapnya.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu sejumlah siswa SMP 18 ketahuan menyayat diri dengan benda tajam. Mereka menyayat tangan dengan pecahan kaca dan jarum pentul karena terobsesi video yang menyebar di grup media sosial, facebook, Instagram dan whatsapp.

Prilaku menyimpang itu menurut siswa dilakukan karena mengalami banyak masalah. Sejumlah siswa mengaku setelah menyayat diri mereka merasa puas walau fisik mereka merasa sakit karena terluka akibat sayatan. Namun kini 56 siswa itu mengaku menyesal. (mb/okezone)

Related posts