AGAM, METROBATAM.COM — Tokoh masyarakat Sumatera Barat, Syafril Dt Rajo Api, menyoroti serius persoalan putusnya akses jalan di kawasan Lembah Anai dan Malalak, serta kemacetan kronis yang kerap terjadi di Koto Baru, Padang Lua, dan Jambu Aia.
Menurutnya, kondisi tersebut telah memberikan dampak besar terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat Sumatera Barat, bahkan berimbas hingga ke tingkat nasional.
Hal itu disampaikan Syafril Dt Rajo Api kepada media, Kamis (5/2). Pria yang akrab disapa Nyiak Api itu menegaskan bahwa gangguan infrastruktur di jalur utama penghubung Padang–Bukittinggi bukan lagi persoalan biasa, karena dampaknya telah dirasakan langsung oleh masyarakat luas dari berbagai sektor.
“Ini bukan cuma soal macet atau jalan putus. Ini sudah merusak pariwisata, merusak ekonomi masyarakat Sumatera Barat, bahkan berdampak ke tingkat nasional,” tegasnya.
Ia menjelaskan, putusnya jalan di Lembah Anai dan Malalak serta kemacetan parah di Koto Baru, Padang Lua, dan Jambu Aia telah mengganggu berbagai aktivitas penting masyarakat. Mulai dari warga yang hendak menuju bandara, anak sekolah dan mahasiswa yang harus beraktivitas ke Padang, hingga distribusi barang dan jasa yang menjadi terhambat.
Selain itu, sektor pariwisata juga ikut terdampak. Wisatawan yang hendak berkunjung ke Bukittinggi dan daerah sekitarnya sering kali terjebak kemacetan atau harus memutar jauh akibat jalan putus.
“Wisatawan yang mau ke Bukittinggi juga terganggu. Efek berantainya panjang ke mana-mana,” ujarnya.
Terkait persoalan di Lembah Anai, Nyiak Api kembali menyinggung penyempitan Sungai Batang Anai akibat adanya bangunan di bahu dan badan sungai. Kondisi tersebut menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air saat hujan deras, sehingga air meluap ke jalan, mengikis bahu dan badan jalan, hingga akhirnya terjadi longsor dan jalan putus total.
“Itu salah satu penyebab utama kenapa dalam beberapa tahun terakhir jalan di sekitar Lembah Anai sering putus,” jelasnya.
Sementara itu, kemacetan di kawasan Koto Baru, Padang Lua, dan Jambu Aia dinilai terjadi akibat aktivitas pasar yang meluber hingga ke badan jalan, ditambah parkir kendaraan serta tingginya aktivitas pedagang dan pembeli. Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan kerap menyebabkan kemacetan panjang bahkan hingga berjam-jam.
Akibat dari rangkaian persoalan tersebut, berbagai sektor ikut terdampak. Selain menghambat mobilitas masyarakat, kondisi ini juga memperlambat distribusi barang dan jasa, meningkatkan biaya transportasi, serta menurunkan kenyamanan dan minat wisatawan untuk berkunjung ke Sumatera Barat.
“Kalau ini terus dibiarkan, kita sendiri yang rugi. Pariwisata rusak, ekonomi masyarakat ikut tertekan,” tegasnya.
Sebagai solusi utama, Nyiak Api menekankan pentingnya percepatan pembangunan jalan tol Padang–Bukittinggi. Dengan beroperasinya jalan tol tersebut, ia meyakini beban lalu lintas di jalur lama yang rawan macet dan rawan putus akan berkurang secara signifikan.
“Solusinya jelas, sesegera mungkin selesaikan jalan tol Padang–Bukittinggi. Kalau tol ini sudah jalan, arus kendaraan akan terbagi dan tekanan di jalur lama bisa jauh berkurang,” ujarnya.
Selain jalan tol, ia juga menyarankan pembangunan flyover di titik-titik rawan macet sebagai solusi pendukung, agar aktivitas pasar dan lalu lintas lokal tetap berjalan, sementara kendaraan lintas daerah dapat melintas dengan lebih lancar.
Meski mengakui pembangunan tol dan flyover bukan perkara mudah—terutama terkait pembebasan lahan dan kebutuhan anggaran yang besar—Nyiak Api tetap optimistis proyek strategis tersebut dapat terwujud dengan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga tokoh masyarakat dan warga pemilik lahan.
“Yang penting ada kemauan bersama. Kita semua ingin Sumatera Barat maju, pariwisatanya hidup, dan ekonomi masyarakat bergerak lancar,” pungkasnya.
(Basa)














