IMA Soroti Kondisi Lansia di Rempang, Kisah Nek Amlah Jadi Perhatian

Foto : Nukila Evanty Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) dan Nek Amlah.

METROBATAM.COM, BATAM Desa Pasir Panjang di Pulau Rempang pernah menjadi salah satu lokasi yang masuk dalam rencana pengembangan proyek Rempang Eco-City yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada tahun 2023. Di tengah polemik tersebut, sosok seorang warga lanjut usia bernama Nek Amlah (107) menjadi perhatian karena keteguhannya bertahan di kampung tua tersebut.

Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA), Nukila Evanty, belum lama ini mengunjungi Desa Pasir Panjang untuk melepas rindu sekaligus melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak rencana proyek tersebut. Kunjungan itu juga dimaksudkan untuk mendengar kebutuhan kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan para lansia, termasuk Nek Amlah.

Saat ditemui, Nek Amlah sempat memandang Nukila dengan raut wajah yang seolah mencoba mengingat. Dengan bahasa Melayu, ia mengaku sedikit khawatir jika suatu saat harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Di sela perbincangan, Nek Amlah juga menunjukkan kerajinan tangannya yang dibuat dari daun pandan, berupa tikar dan tudung saji. Bahkan ia memberikan sebuah tudung saji kepada Nukila yang kemudian dikenakan sebagai penutup kepala.

Bacaan Lainnya

Nek Amlah bercerita bahwa dirinya telah tinggal di Desa Pasir Panjang sejak tahun 1918. Ia mengenang masa ketika wilayah tersebut masih dipenuhi hutan dan suasana alam yang sangat asri. Rumahnya yang berada tidak jauh dari pantai menjadi tempatnya menjalani kehidupan sebagai nelayan tradisional.

Dalam pertemuan tersebut, Nek Amlah bersama 23 lansia lainnya di Desa Pasir Panjang menyampaikan bahwa akses layanan kesehatan di wilayah tersebut mulai membaik dengan adanya satu unit puskesmas.

Meski demikian, kondisi rumah bantuan yang diterima Nek Amlah masih menjadi perhatian. Keluarga Nek Amlah mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan, namun rumah tersebut dinilai belum memenuhi standar hunian layak bagi seorang lansia.

“Menurut informasi dari RT setempat, bantuan renovasi rumah yang diberikan hanya sekitar Rp10 juta. Padahal untuk memperbaiki rumah Nek Amlah agar layak huni diperkirakan membutuhkan lebih dari Rp20 juta,” kata Nukila kepada wartawan Metrobatam.com melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan, rumah tersebut masih memiliki sejumlah kekurangan, seperti atap yang belum selesai serta lantai yang berpotensi licin. Selain itu, pintu rumah juga perlu diperkuat mengingat Nek Amlah tinggal seorang diri.

Fasilitas kamar mandi atau toilet juga dinilai kurang memadai. Ukurannya sempit dan posisinya berdekatan tanpa sekat yang jelas, sehingga dinilai kurang aman bagi lansia.

Menurut keterangan anak dan cucu Nek Amlah, kondisi kesehatan perempuan berusia lebih dari satu abad itu juga mulai menurun. Ia kerap terbangun pada malam hari untuk ke kamar mandi dan beberapa kali terjatuh.

Karena itu, Nukila berharap Pemerintah Kota Batam dapat memberikan perhatian lebih, khususnya terkait fasilitas yang ramah lansia.

“Tidak semua lansia mau menggunakan pampers. Akan lebih baik jika disediakan alat bantu seperti tongkat khusus, kursi roda, atau alat bantu jalan agar mereka tidak mudah jatuh,” ujarnya.

Selain itu, ia juga merekomendasikan agar Pemko Batam menyediakan kendaraan darurat seperti ambulans di Desa Pasir Panjang. Menurutnya, fasilitas tersebut sangat penting untuk menangani kondisi darurat, termasuk bagi warga yang membutuhkan penanganan medis cepat atau ibu yang akan melahirkan.

Nukila juga meminta pemerintah menyediakan vitamin atau suplemen kesehatan bagi para lansia. Ia mengaku sempat mendengar langsung keluhan Nek Amlah yang merasakan nyeri pada tulang punggungnya.

Ia menegaskan bahwa para lansia di Indonesia memiliki hak yang dijamin oleh negara, termasuk hak atas pelayanan kesehatan, jaminan sosial, kemudahan transportasi, hingga pelayanan mental dan spiritual.

“Negara, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menghormati dan melindungi hak-hak para lansia,” tegasnya.

Selain persoalan lansia, Nukila juga menyoroti akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut. Ia menilai perhatian pemerintah terhadap sarana pendidikan masih perlu ditingkatkan.

“Anak-anak harus berjalan cukup jauh untuk pergi ke sekolah. Pemerintah jangan hanya fokus pada program tertentu, tetapi juga perlu memikirkan transportasi dan fasilitas pendidikan yang memadai bagi mereka,” pungkasnya. (Awaludin)

Pos terkait