Pulau Penyengat Resmi Jadi Jantung Bahasa Indonesia

TANJUNGPINANG, METROBATAM.COM – Sejarah besar akhirnya ditulis di tanah bersejarah. Pulau Penyengat, pulau kecil yang melahirkan bahasa persatuan, resmi ditetapkan sebagai jantung lahirnya Bahasa Indonesia.

Penetapan itu ditandai dengan groundbreaking pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kamis (24/9) sore. Momen sakral tersebut dihadiri langsung Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, jajaran Forkopimda Kepri, serta seluruh Bupati dan Wali Kota se-Kepri.

Mendagri Tito Karnavian menegaskan, proyek ini jauh melampaui sekadar bangunan fisik. Ini adalah soal identitas dan pemersatu bangsa.

Bacaan Lainnya

“Inilah pemersatu kita. Museum ini dan monumen ini akan menjadi pemersatu kita,” tegas Tito di lokasi.

Mantan Kapolri itu memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Gubernur Kepri. Menurutnya, museum ini akan menjadi bukti otentik yang tak terbantahkan.

“Inisiatif Bapak Gubernur, jujur saja, saya sangat mengapresiasi. Dengan adanya museum ini, jejaknya itu semua terkumpul bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu,” ujarnya.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyebut pembangunan di atas lahan seluas 2 hektare ini adalah utang sejarah yang akhirnya harus dibayar lunas oleh negara.

“Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional merupakan bentuk komitmen untuk merawat jejak sejarah bahasa Indonesia yang berkembang dari bahasa Melayu di Kepri, khususnya Pulau Penyengat,” ujar Ansar.

Ia mengingatkan, dari pulau kecil inilah Pahlawan Nasional Raja Ali Haji melahirkan karya monumental Gurindam Dua Belas dan pedoman bahasa yang menjadi cikal bakal bahasa persatuan.

“Wabilkhusus di Pulau Penyengat ini, sehingga di tahun 2004 Raja Ali Haji mendapat gelar pahlawan nasional di bidang bahasa,” kenangnya.

Ansar juga menjelaskan alasan logis mengapa bahasa Melayu Kepri yang dipilih para pendiri bangsa.

“Bahasa Melayu yang berkembang di Kepri inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan karena sifatnya yang terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu.” ucap Ansar.

Ada yang khidmat sebelum prosesi groundbreaking. Sehari sebelumnya, Rabu (23/9) sore, Gubernur Ansar bersama Sekdaprov Kepri Misni menyempatkan diri berziarah ke Makam Engku Puteri dan Makam Raja Ali Haji di Penyengat.

“Kita berziarah dulu, mendoakan para pendahulu kita. Mudah-mudahan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa ini juga mendapat keberkahan dan bisa menjadi warisan untuk generasi kita ke depan,” kata Ansar.

Proyek prestisius ini dibangun dengan skema multiyears selama 2 tahun dengan total anggaran sekitar Rp101 miliar.

Ditargetkan rampung pada akhir tahun 2027 dan akan diresmikan langsung oleh Presiden RI pada momentum paling sakral: 100 Tahun Sumpah Pemuda pada tahun 2028.

Bagi Ansar, museum ini bukan sekadar destinasi wisata baru. Ini adalah ruang edukasi, ruang kebanggaan, dan simbol pengakuan nasional.

“Kehadiran museum dan monumen tersebut diharapkan menjadi simbol pengakuan nasional terhadap kontribusi besar Pulau Penyengat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia,” tutupnya.

(Budi) 

Pos terkait