oleh

Ini 3 Alasan PNS Tajir Pemilik 17 Mobil Ingin Bunuh Diri di Sel KPK

Metrobatam, Jakarta – Rohadi mengaku sangat depresi hingga disebut-sebut berkali-kali ingin bunuh diri dengan meloncat dari lantai 9 KPK. Berbagai hal menjadi latar belakang kenapa panitera pengganti PN Jakut itu sampai depresi.

Kuasa hukum Rohadi, Alamsyah Hanafiah menjelaskan kliennya ketakutan bahwa keluarganya akan ikut terseret dengan kasus dugaan suap yang membelitnya.

“Dia ini rasa takutnya itu takut. Pertama, anaknya dilibatkan ditetapkan sebagai tersangka, keluarganya maksudnya,” kata Alamsyah usai sidang di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (13/9).

“Kemudian kedua dia tidak bisa bertemu anaknya. Anaknya lagi dicari-cari enggak ketemu, di situ rasa takutnya dia. Kemudian yang ketiga rasa takutnya dia tidak mau didakwa,” jelasnya.

Menurut Alamsyah, Rohadi tak mau jika dakwaannya tak digabungkan antara suap, pencucian uang, dan gratifikasi.

“Kalau hanya yang akan datang itu didakwa maksudnya minta digabungkan antara dakwaan pencucian uang dengan dakwaan gratifikasi. Jangan sampai perkara gratifikasi satu dakwaan nanti putus sidang lagi, dia trauma di situ,” tutur Alamsyah.

Rohadi didakwa menerima suap Rp 250 juta dan Rp 50 juta terkait penanganan perkara Saipul Jamil di PN Jakut. Ia didakwa dalam 5 dakwaan dan terancam 20 tahun penjara. Selain itu, kini Rohadi juga ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang dan gratifikasi. Kasusnya masih ditangani penyidik KPK dan sejumlah asetnya disita KPK.

25 Tahun lalu, Rohadi merupakan pegawai pengadilan yang tinggal di rumah petak. Tapi seiring waktu, kehidupannya membaik bahkan menjadi konglomerat. Ia kini memiliki 17 mobil, rumah sakit, proyek real estate, water park hingga kapal penangkap ikan. Padahal, ia hanyalah panitera pengganti (PP) dengan gaji Rp 8 jutaan per bulan. (mb/detik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed