Stres Ditinggal Istri ke Malaysia, Pedagang Tahu Tewas Gantung Diri

Metrobatam, Medan – Diduga stres menghadapi beban hidupnya seorang diri, seorang pedagang tahu di Pasar 8 Tembung, Erwin Syahputra atau yang akrab disapa Puput (27), ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya, di Jalan Jati, Gang Jati 1, Dusun 10, Desa Bandar Klippa, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, pada Selasa 18 Oktober malam.

Jasad korban pertama sekali diketahui oleh Agus Dermawan (18) mahasiswa Universitas Medan Area (UMA), yang tak lain adalah adik korban.

Read More

Sore itu, Agus baru pulang kuliah dan hendak masuk ke rumah orangtuanya yang ditempati dirinya dan korban. Awalnya, Agus sempat mengetuk dan meneriaki dari luar rumah, karena pintu terkunci. Lama tak mendapat respon, Agus pun memilih masuk lewat jendela samping rumahnya.

Dia pun kaget serta teriak histeris mendapati abang kandungnya sudah tergantung di dapur rumahnya menggunakan kain panjang. Warga yang mendengar jeritan Agus, langsung memadati lokasi. Selanjutnya, warga dan Kepala Dusun (Kadus) setempat melapor ke Polsek Percut Sei Tuan.

Berdasarkan keterangan Agus dan keluarganya, korban diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri lantaran tak mampu menghadapi hidup seorang diri setelah ditinggal istrinya ke Malaysia.

“Kurasa stres dia, karena istrinya sudah lima bulan pergi untuk bekerja di Malaysia. Kami hanya tinggal berdua di rumah. Anaknya ada satu tinggal bersama neneknya,” kata Agus di rumah duka, Rabu (19/10).

Selain ditinggal istrinya, keluarga dan tetangga korban juga menduga kalau korban tambah nekat mengakhiri hidupnya lantaran faktor ekonomi. “Bolak-balik dia pinjam uang kemana-mana, tapi usaha jualan tahunya terus bangkrut,” tambah Agus.

Sementara, Hamzah, Kepala Dusun setempat, saat di rumah korban juga mengatakan hal yang demikian. “Memang selama ini korban enggak pernah terdengar ada masalah. Tapi semenjak istrinya pergi ke Malaysia, dia kurasa stres. Ditambah lagi usahanya yang bangkrut,” tutur Hamzah.

Sebelum mengakhiri hidupnya, korban terlebih dahulu menuliskan kata maaf kepada orangtuanya dan anaknya di dinding dapur rumahnya.

“Puput minta maaf ya Mak. Selama ini Puput sudah banyak nyusahin mamak. Untuk apa hidup buat malu, enggak berguna dan nyusahin. Inilah yang terbaik. Puput minta tolong ya mak, jangan ribut-ribut. Semuanya sudah selesai. Maafkan ayah ya nak, ayah sayang dan semuanya aku minta maaf harus mati di sini,” isi tulisan di dinding dapur dengan kapur putih.

Temuan itu pun semakin membuat haru dan pilu keluarganya. Hingga pihak keluarga meminta agar jasad korban tak dibawa ke rumah sakit dan keluarga korban merasa keberatan untuk dilakukan autopsi.

“Atas permintaan keluarga, jasad korban tidak dilakukan autopsi dan pihak keluarga korban bersedia membuat surat pernyataan tidak keberatan atas tewasnya korban, karena matinya korban sudah jelas gantung diri,” jelas, Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, AKP Hendrik Temaluru, dihadapan keluarga korban. (mb/okezone)

Related posts