Balita Korban Bom di Gereja Oikumene Samarinda Meninggal

Metrobatam, Samarinda – Seorang balita korban bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Intan Olovia Banjarnahor, 2,5 tahun, akhirnya meninggal, Senin (14/11). Intan Olivia yang mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya mengembuskan napas terakhirnya di RSUD AW Syaranie, Samarinda, sekitar pukul 04.30 Wita.

“Anak kami Intan meninggal setengah lima, subuh tadi. Sekarang kami berduka di rumah orang tuanya,” kata Robert Sihite, Sekretaris Bendahara Gereja Oikumene, Samarinda Seberang.

Read More

Hampir seluruh jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Samarinda Seberang memenuhi rumah duka. Intan Novia menjadi korban ledakan bom molotov bersama tiga balita lain di Gereja Oikumene, Minggu, 13 November 2016. Intan mengalami luka serius bersama Trinity Hutahayan. Keduanya dirujuk ke RSUD AW Syahranie. Intan dan Trinity mengalami luka bakar hingga 60 persen tubuhnya.

Polisi sudah menahan seorang yang diduga pelaku pengeboman berinisial J. Dari riwayatnya, pelaku merupakan residivis pelaku pengeboman di Jakarta.

Terkait meninggalnya Intan Marbun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan bela sungkawa. “MUI mengucapkan bela sungkawa atas korban meninggal dunia peristiwa bom molotov di depan Gereja Samarinda. Ini merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan,” kata Wakil Ketua MUI Pusat Zainut Tauhid, Senin (14/11).

MUI mengecam aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama. Islam menurut Zainut adalah agama yang mengajarkan perdamaian.

“Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam-red), agama perdamaian yang melarang pemeluknya melakukan perusakan dan pembunuhan. Apalagi terhadap rumah ibadah, kaum perempuan dan anak-anak,” ujar Zainut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan, Intan meninggal di RS Abdul Muis Samarinda sekitar pukul 03.05 WIB tadi. “Korban meninggal akibat luka bakar 78 persen dan infeksi saluran pernafasan,” ujar Agus.(tempo/detik)

Related posts