Polri: Penyebar Isu Rush Money Terdeteksi di Jakarta

Metrobatam, Jakarta – Pelaku penyebar isu rush money telah terdeteksi keberadaannya oleh polisi. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan lokasi para pelaku tersebar di beberapa lokasi.

“Sudah posisinya sudah. Langsung kelihatan posisinya, oh di pulau ini, di pulau ini. (Selain daerah DKI Jakarta), ada luar kota, di luar pulau Jawa,” kata Boy di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (23/11).

Read More

Boy menyebut saat ini polisi tengah melakukan pendalaman penyelidikan. Dia tidak ingin bertindak bergegas yang malah membuat para pelaku kemudian kabur melarikan diri. “Nantilah kalau sudah matang lebih enak. Kalau enggak, mereka takut dan pergi,” ucapnya.

Sebelumnya Boy mengatakan bahwa Mabes Polri telah mendeteksi pelaku penyebar isu rush money. Ada sekitar 4 sampai 5 orang pelaku yang telah diketahui. “Pelakunya sudah dapat juga. Sumbernya satu awalnya langsung ke grup, kurang lebih yang terdeteksi awal 4 sampai 5,” jelas Boy Rafli Amar.

Meski demikian, Boy menyebut belum ada upaya jemput paksa terhadap para pelaku tersebut. Hingga saat ini, polisi masih merampungkan hasil penyelidikannya. “Cuma belum ada upaya paksa saja, masih memantapkan hasil penyelidikan dulu,” kata Boy.

Sejauh ini, polisi telah melakukan pemeriksaan secara digital forensik. Polisi menyebut akun-akun di media sosial tersebut yang kemudian menyebarkan isu tersebut dengan cara broadcast atau pesan ke banyak orang di grup-grup perpesanan seperti Whatsapp dan Facebook.

“Belum sampai ke pemeriksaan baru pemeriksaan digital forensik untuk pengumpulan bahan-bahan. Kan orangnya (dicari) akunnya ada orangnya ada di mana kan begitu,” jelas Boy.

Rush money adalah penarikan uang dalam jumlah besar secara bersama-sama di bank. Isu gerakan rush money ini muncul di tengah kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang tengah disidik oleh Bareskrim Polri.

Pelaku mengajak masyarakat untuk menarik uang secara bersama-sama sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap pemerintah dalam upaya penegakan hukum terhadap Ahok. Hal ini tentu sangat disayangkan bila benar terjadi, lantaran dapat mengganggu stabilitas perbankan Indonesia.(mb/detik)

Related posts