2.386 Warga Sumsel Idap HIV-Aids, Mayoritas Usia Produktif

Metrobatam, Palembang – Penyakit HIV-Aids masih menghantui warga Sumatera Selatan (Sumsel), berdasarkan informasi yang diperoleh dari Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumsel, terdata 2.386 orang dengan HIV Aids (Odha) di Bumi Sriwijaya ini sejak 11 tahun terakhir.

Ketua‎ PKBI Sumsel, Erial Bahar menjelaskan secara keseluruhan sejak 1995-2016 ada sebanyak 1204 orang menderita HIV dan Aids 1182 kasus. “Dengan jumlah korban jiwa 152 orang,” katanya.

Read More

Khusus untuk 2016 terdata dari 199 Odha, dengan 151 menderita Aids dan 45 sisanya terjangkit HIV dan lima orang meninggak dunia. “Kalau dibanding tahun sebelumnya persentasenya mengalami peningkatan,” jelasnya.

Mayoritas mereka yang terkena penyakit berbahaya ini berada di usia produktif. Sejumlah program terus dilakukan untuk merehabilitasi para Odha tersebut. Setidaknya hal tersebut dapat menguatkan mereka untuk bertahan dan hidup normal seperti orang kebanyakan.

“Satu-satunya jalan untuk menghindari penyakit ini adalah pencegahan. Karena sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan,” katanya.

Kota lainnya yang tercatat banya pengidap HIV/AIDS yaitu Kota Palangkaraya. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalimantan Tengah William Katopo mengungkapkan, berdasarkan data yang diperoleh hingga semester I pada 2016, total penderita sebanyak 810 orang. Jumlah tersebut meliputi Palangkaraya dengan 178 penderita HIV dan 151 AIDS. Kotawaringin Timur 163 (HIV) dan 38 (AIDS). Kotawaringin Barat 134 (HIV) dan 18 (AIDS).

Selanjutnya, Katingan 18 (HIV) dan 5 (AIDS). Sukamara 5 (HIV) dan 3 (AIDS). Lamandau 8 (HIV) dan 1 (AIDS). Gumas 4 (HIV) dan 7 (AIDS). Kapuas 15 (HIV) dan 6 (AIDS). Pulang Pisau 6 (HIV) dan 5 (AIDS). Bartim 6 (HIV) dan 5 (AIDS). Barsel 4 (HIV) dan 4 (AIDS), Barut 17 (HIV) dan 4 (AIDS). Seruyan 1 (HIV) dan 2 (AIDS). Kemudian Murung Raya 1 (HIV) dan 1 (AIDS).

“Palangkaraya memiliki penderita paling banyak, karena banyak warga didaerah lain berobat di RSUD Doris Sylvanus. Lalu dari 810 penderita diseluruh Kalteng maupun di Kota Palangkaraya sendiri didominasi usia adalah 25–49 tahun atau usia produktif,” ujar Wiliam, Rabu (23/11/2016).

Ia menambahkan, usia 25–49 tahun menempati 71,1% penderita. Selanjutnya, 13,8% usia 20–24 tahun. Dilanjutkan usia di atas 50 tahun sebanyak 6,7%; 2,6% usia 15–19 tahun; 2,6% usia 5–14 tahun; dan 3,1% usia 4 tahun.

Wiliam menerangkan, HIV/AIDS bisa menjangkit kesemua kalangan bila ada transaksi seks ataupu perilaku tidak baik. Umumnya orang yang terjangkit, mempunyai keinginan periksa ke dokter jika penyakitnya sudah mulai parah. Padahal, menurutnya, hal seperti itulah yang membahayakan.

“Di Kalteng infeksi virus HIV melalui interaksi seksual masih tinggi. Di mana ada transaksi seks di situ kemungkinan besar bisa terjangkit. Dari jumlah 810 itu, status swasta paling terbanyak sebagai penderita. Kemudian ibu-ibu. Lalu sisanya ada ASN, TNI, Polri, dan masyarakat umum,” tandasnya.

Sedangkan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mencatat dalam kurun Januari hingga September 2016 sebanyak 82 orang terjangkit virus HIV/AIDS di daerah itu. “Orang yang baru terjangkit mencapai 82 orang, dan yang meninggal dunia sebanyak 16 orang,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Amin Kurnia.

Ia mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di daerah ini terus meningkat dari tahun ke tahun, sejak ditemukan kasus pertama pada 2001. Saat ini jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS di Provinsi Bengkulu mencapai 799 orang dengan jumlah penderita yang meninggal dunia mencapai 169 orang.

Amin menjelaskan, penanggulangan penyebaran virus HIV/AIDS telah digencarkan pemerintah daerah sejak kasus pertama ditemukan pada 2001. Pihaknya meningkatkan koordinasi lintas sektor, pelibatan lembaga swadaya masyarakat hingga penguatan kapasitas Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

“Penjangkauan sangat banyak dilakukan teman-teman dari LSM, selain kesadaran sendiri penderita untuk tes darah,” ucapnya.(mb/okezone)

Related posts