Bahrun Naim Danai Bom Panci Bekasi dengan Mekanisme Transfer

Metrobatam, Jakarta – Berdasarkan hasil penyidikan, diketahui tersangka teroris terkait penemuan bom panci di Bekasi menerima sejumlah dana dari pentolan ISIS asal Indonesia yang berada di Suriah, Bahrun Naim.

Kadiv Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan uang tersebut sampai ke tangan Nur Solikin alias Abu Ghurob dan kawan-kawannya melalui mekanisme transfer. “Melalui transfer ya. Kita yakini dari luar negeri, dari jaringan Bahrun Naim. Itu terkait hasil yang terungkap di penyidikan kita. Ada pengiriman sejumlah uang untuk melaksanakan aksi,” kata Boy di Kompleks Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (16/12).

Read More

Sebelumnya diketahui Nur Solikin menerima dana Rp5 juta dari Bahrun Naim. Penerimaan uang itu terdata dua kali. Pertama Rp2 juta, yang kedua Rp3 juta. Kendati demikian, informasi yang saat ini ada akan terus dikembangkan apakah ada pihak lain yang turut mendanai rencana aksi teror bom yang berhasil digagalkan Densus 88 ini.

“Kita kembangkan terus apakah ada maksud lain. Karena bisa jadi bukan hanya Bahrun aja yang mengirim, tapi lewat perantara juga di negara tertentu,” tukasnya.

Bom panci rencananya akan diledakkan di Istana Negara sesuai dengan perintah Bahrun Naim. “Pengantin” bom yang direkrut adalah perempuan bernama Diyan Yulia Novi. Pasca-penemuan bom panci itu sebanyak 12 terduga teroris sudah ditangkap di mana tujuh di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Penyidik Polri terus melakukan pendalaman atas temuan aliran dana terkait dugaan rencana pengeboman yang akan dilakukan di kawasan Istana Negara oleh jaringan teroris di Bekasi. Sebelumnya Polri telah menemukan ada bukti transfer dari simpatisan ISIS di Suriah, yaitu Bahrun Naim, untuk mendanai pengeboman tersebut. Namun masih ditelusuri apakah uang itu langsung dari Bahrun Naim atau lewat perantara.

“Kita yakini dari luar negeri, jaringan Bahrun Naim. Tapi perlu didalami, karena bisa jadi bukan hanya Bahrun Naim saja yang mengirim, tapi lewat perantara juga di negara tertentu,” katanya.

Tidak Menimbulkan Curiga
Boy Rafli Amar juga mengatakan, menggunakan perempuan sebagai calon “pengantin” bom bunuh diri dianggap kelompok teroris tidak akan menimbulkan kecurigaan. “Kaum wanita biasanya enggak mengandung kecurigaan karena wanita dilihat lebih irrasional kalau melakukan itu. Makanya mereka enggak curiga. Makanya kelompok teror gunakan wanita biar enggak dicurigai. ” katanya.

Menggunakan wanita sebagai eksekutor bom bunuh diri dianggap kelompok teroris lebih mudah untuk mengelabui orang yang dianggap musuh. Karena selama ini “pengantin” bom adalah pria.

“Strategi dalam rangka mengelabui objek yang jadi sasaran seolah wanita simbol kedamaian, mampu memberikan situasi yang menyejukkan dan kemudian dimanfaatkan,” ulas mantan Kapolda Banten ini.

Kendati demikian, belum tentu juga wanita menjadi sasaran mudah untuk direkrut sebagai “pengantin”. Karena menurutnya tidak semua wanita mau untuk mengorbankan diri untuk percobaan bom bunuh diri.

“Memang rentan dipengaruhi, tapi belum tentu rawan. Enggak semua wanita mudah karena umumnya wanita memiliki kecurigaan yang tinggi. Kalau untuk kasus Bekasi, mereka berhasil mempengaruhi dan dia sangat efektif,” pungkasnya.

Sebelumnya Diyan Yulia Novi dipersiapkan oleh Nur Solihin untuk menjadi “pengantin” bom bunuh diri menggunakan bom panci yang ditemukan di Bekasi, Sabtu 10 Desember 2016. Bom itu direncanakan akan diledakkan di Istana Negara ketika pelaksanaan serah terima jaga Paspampres Minggu 11 Desember 2016. Beruntung rencana itu berhasil digagalkan oleh Densus 88 Anti Teror Polri.(mb/okezone)

Related posts