Cari Kotak Hitam, Tim SAR Terjunkan 151 Penyelam

Metrobatam, Jakarta – ‎Setelah menemukan serpihan pesawat dan bagian-bagian tubuh yang diduga milik 13 korban Pesawat Skytruck M-28 milik Polri, Tim SAR gabungan kini menerjunkan 151 penyelam. Mereka akan mencari kotak hitam (black box) hingga serpihan pesawat lainnya di sekitar perairan Lingga, Kepulauan Riau‎.

Kabagpenum Divisi Humas Polri ‎Kombes Martinus Sitompul mengatakan, ‎bahwa pihaknya akan terus berupaya mencari para korban pesawat jatuh. Proses pencarian nanti akan dievaluasi.

Read More

“Mencari itu kita kerahkan lebih banyak penyelam untuk cari bagian tubuh, dan pesawat hingga black box. Ada 151 personel. Kita berupaya secepatnya, tapi biasanya tujuh hari ada evaluasi,” kata Martinus di Mabes Polri, Jakarta, ‎Senin (5/12).

Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu memastikan, tidak ada kendala berarti dialami Tim SAR gabungan dari Polri, Basarnas, dan TNI selama tiga hari pencarian korban dan bangkai pesawat Polri tersebut. Kecuali hanya posisi jatuhnya pesawat yang berada di laut dalam menyebabkan sulitnya proses evakuasi.

“Kendala tidak ada. Tapi kalau posisi jatuhnya itu kan di posisi laut dalam, sehingga kalau tenggelam dalam kedalaman cukup jauh, tentu ada kendala di pencarian,” lanjut Martinus.

“Yang pasti, semua yang terkait dengan penyelamatan ini, terus digerakan oleh Basarnas untuk mencari,” jelasnya.

Sementara itu AKP Abdul Munir Miharja, salah satu korban kecelakaan pesawat Polri jenis Skytruck M28 yang jatuh di perairan Lingga, Kepulauan Riau, merupakan pilot dari kesatuan Polisi Udara yang memulai karirnya sejak tahun 2005.

Pria yang lulus SMA pada tahun 1996 itu tak pernah mengira jika karir membawanya untuk mengabdi pada institusi kepolisian. Padahal, anak kedua dari 4 bersaudara itu sangat ingin menjadi seorang pilot.

Retno, kakak perempuan Abdul Munir menceritakan, adiknya itu sangat berkeinginan menjadi seorang pilot. Inspirasi itu didapat tatkala sang suami yang saat itu masih berpacaran dengannya, mengajak Abdul Munir menyaksikan pameran dirgantara di Jakarta pada tahun 1995.

“Setelah melihat pameran dirgantara itu, dia kagum dan sempat berkali-kali menanyakan syarat untuk bisa jadi pilot. Saat itu kan suami saya memang sudah dinas di polisi udara,” tutur Retno di kediaman AKP Abdul Munir di Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (5/12).

Karena tekad untuk menjadi seorang pilot sudah bulat, akhirnya pada tahun 1999 Abdul Munir mulai mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Penerbangan (STP) Curug dan lulus pada tahun 2001.

Usai lulus, Abdul Munir beberapa kali sempat mengirim lamaran untuk bekerja pada beberapa maskapai penerbangan, terakhir ditujukan ke Garuda Indonesia. Namun karena harus menunggu selama 3 bulan untuk proses seleksi di Garuda Indonesia, akhirnya atas masukan dari kakak iparnya, Munir mencoba mengirim lamaran ke kepolisian udara.

“Suami saya coba kasih masukan saat itu, supaya kirim lamaran juga ke kepolisian udara. Nggak beberapa lama akhirnya langsung dipanggil dan langsung diterima. Dia sempat ragu, tapi karena terus dimotivasi oleh keluarga akhirnya dia mau masuk dinas kepolisian,” sambung Retno.

Sejak itulah Abdul Munir mulai mengabdikan dirinya sebagai seorang pilot polisi udara hingga mendapat pangkat terakhir Ajun Komisaris Polisi.

Kini pihak keluarga pun berharap, agar secepatnya ada kepastian nasib dari Abdul Munir dan 12 rekannya yang hingga kini belum ditemukan. “Keluarga sudah ikhlas apapun hasilnya nanti, yang penting secepatnya ada kepastian soal itu,” tutup Retno.

AKP Abdul Munir Miharja meninggalkan seorang istri bernama Sesy Aryanti, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan, Kaisa (7) dan Cisairo (5).(mb/okezone)

Related posts