Di Usia 73 Tahun, Mick Jagger Punya Anak Lagi

Jakarta, Mick Jagger baru saja menyambut kelahiran anaknya yang ke-8 di usia yang sudah senja, 73 tahun. Tetapi konon punya anak di usia lanjut tidak baik bagi kesehatan si anak, benarkah?

Baru-baru ini dunia dikejutkan kabar gembira dari musisi kenamaan, Mick Jagger. Pentolan band Rolling Stones itu menjadi ayah lagi di usianya yang telah menginjak 73 tahun.

Read More

Tak tanggung-tanggung, bayi laki-laki itu adalah anak Jagger yang ke-8. Kali ini dari buah cintanya dengan seorang pebalet bernama Melanie Hamrick (29).

Pada dasarnya fakta ini tidak begitu mengejutkan sebab pria memang tidak mengalami menopause sehingga mereka masih bisa memiliki keturunan hingga di usia senja. Dan nyatanya ini adalah tren yang terjadi saat ini.

Centers for Disease Control and Prevention mengungkap, dulunya rata-rata pria baru memiliki keturunan di usia 25 tahun. Tetapi sejak tahun 1980-2014 terjadi kenaikan sebesar 58 persen terkait jumlah pria yang baru punya anak pertama di usia 35 tahun ke atas.

Tetapi bukan berarti menunda punya anak bebas dari risiko lho. Pria memang menghasilkan ribuan benih (sel sperma, red) dalam sekali detakan jantung, yaitu mencapai 1.000 sperma. “Namun begitu masuk usia 30 tahun, ‘pabrik sperma’ Anda akan mulai mengalami penurunan performa, karena paparan banyak hal seperti penuaan, atau racun lingkungan dan radiasi,” tandas Ranjith Ramasamy, MD, dari University of Miami Miller School of Medicine.

Ketika usia seseorang bertambah dan faktor-faktor itu bertumpuk di dalam tubuhnya, maka mereka bisa saja kehilangan sel Leydig (sel-sel di dalam testis yang bertugas memproduksi hormon testosterone) dan sel Sertoli (sel yang bertugas memelihara sperma baru).

“Akibatnya, tubuh mulai menghasilkan sperma yang kurang baik, mengandung DNA bermutasi dan bisa membahayakan calon bayi Anda,” kata Ramasamy seperti dilaporkan Men’s Health.

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nature juga pernah menyebut, rata-rata pria berumur 30 tahun ‘mewariskan’ 55 DNA bermutasi ke keturunannya, dan tiap usia bertambah setahun, jumlah DNA bermutasi yang diwariskan bertambah dua kali lipat.

“Memang tidak semua mutasi menyebabkan masalah kesehatan, tetapi beberapa di antaranya menyebabkan susah hamil atau keguguran. Bisa juga cacat lahir atau penyakit genetik pada anak,” tambah Ramasamy.

Baylor College of Medicine pernah melakukan riset tentang hal ini dan mengatakan ada 86 masalah pada bayi yang baru lahir, kaitannya dengan usia sang ayah ketika melakukan pembuahan, terutama jika usianya di atas 40 tahun. Masalah yang dimaksud juga sangat beragam, mulai dari achondroplasia, salah satu jenis kekerdilan, skizofrenia, autisme hingga kanker semisal leukemia.

Baca juga: Kesempatan Jadi Ayah Semakin Kecil Setelah Berusia 41 Tahun

Meski demikian, Robert E Brannigan, MD, ahli urologi dan pakar di bidang kesehatan reproduksi pria dari Northwestern University menjelaskan sebenarnya tak ada masalah bila pria berusaha memiliki keturunan di usia berapapun.

Toh sebagian besar ayah yang berusia lanjut tidak memiliki gangguan kesuburan atau menghasilkan keturunan dengan gangguan perkembangan maupun fisik yang serius. “Faktanya usia ibu lebih memainkan peranan lebih besar terhadap kesehatan anaknya kelak, utamanya mereka yang hamil di usia 35 tahun ke atas,” lanjutnya.

Lagipula untuk saat ini masih sulit menentukan kapan pria dianggap berisiko untuk memiliki keturunan. “Tetapi jika Anda khawatir, konsultasikan saja dengan pakar genetik yang terbiasa menangani gangguan reproduksi,” usulnya.(mb/detik)

Related posts