Gejolak Batin ketika Menyusuri Lokasi Gempa Pidie Jaya, Ada Darah dan Tangis

Metrobatam, Pidie Jaya – Gempa bumi berkekuatan 6,5 Skala Richter mengguncang Kabupaten Pidie Jaya. Geteran gempa terasa kuat di Pidie Jaya maupun Pidie yang merupakan kabupaten bertetangga. Rudi, salah satu warga di Pidie sempat kalang kabut menyelamatkan diri karena pintu rumahnya tak bisa dibuka.

Ketika guncangan terjadi sekira pukul 05.03 WIB, ia sedang bermalam di rumah temannya di kawasan Tijue, Kabupaten Pidie. Ada delapan orang di rumah tersebut, seluruhnya yang sedang tidur langsung berhamburan karena getaran gempa yang berpusat di Pidie Jaya itu, terasa kuat.

Read More

Nahas, saat akan keluar, kunci pintu tidak bisa dibuka sementara goncangan semakin parah. Upaya membuka pintu berhasil setelah mereka berusaha tenang di tengah kepanikan. Begitu pintu terbuka, Rudi bersama tujuh temannya langsung menuju jalan yang jauh dari bangunan.

“Kami di jalan melihat tetangga juga berhamburan. Sekira 10 menit kemudian, datang lagi gempa, tapi tidak sekuat yang pertama,” ucap Rudi saat berbincang dengan Okezone, Rabu (7/12).

Selanjutnya ia menelefon keluarganya yang tinggal di Pidie. Kabar yang didapat rata-rata keluarganya baik-baik saja namun sempat panik. Tapi tak lama, kabar duka datang. Keluarga teman Rudi yang rumahnya diinapin, tertimpa reruntuhan.

“Datang kabar dari Pidie Jaya kalau rumah keluarga roboh dan menimpa dua orang di rumah. Kakak teman saya dan anaknya. Kami langsung bergegas ke Pidie Jaya naik mobil,” ceritanya.

Selama perjalanan dari Pidie ke Pidie Jaya, Rudi melihat kepanikan. Warga berkumpul di pinggiran jalan menjauhi bangunan. Ada warga yang menangis, minta tolong, sementara bangunan-bangunan tampak roboh.

Rudi mengaku sebenarnya ingin menolong, tapi tak dilakukan karena harus memastikan keluarga temannya di Pidie Jaya yang juga mengalami nasib serupa. “Ingin sekali menolong mereka, tapi kami juga dalam perjalanan menolong keluarga,” ujarnya.

Rumah keluarga teman Rudi yang dituju berada di suatu lorong, sekira 100 meter dari jalan utama di Pidie Jaya. Mobil tidak bisa masuk karena jalanan lorong yang kecil. Begitu sampai, ia dan teman-temannya langsung lari meninggalkan mobil menuju rumah sang kakak.

“Sama saja kesedihannya. Orang-orang di lorong itu juga minta tolong. Ada yang kepalanya berdarah-darah. Rumah kakak teman saya itu roboh, kakak teman saya dan anaknya tertimpa. Tapi sewaktu kami sampai, keduanya sudah dievakuasi ke Puskemas Pidie Jaya,” akunya.

Rudi dan teman-temannya langsung menolong warga di sana. Mobil yang harusnya untuk delapan orang, dipaksa memuat lebih banyak warga yang butuh bantuan. “Ada anak tetangga masih kecil terluka, kami tolong. Ada pula orang dewasa yang kepalanya berdarah-darah. Kami bawa mereka ke puskemas,” akunya.

Sampai di puskemas, Rudi bertemu keluarga temannya dan terungkap kalau kakak dan ponakan temannya itu sudah meninggal dunia. Beruntung dua keluarga lainnya bisa menyelamatkan diri meski mengalami patah tulang tangan.

“Di puskemas sudah tidak ada yang menolong, karena medis juga sibuk dan jumlah mereka sedikit, sementara warga yang terluka banyak. Keluarga yang patah tangan kami bawa ke rumah sakit di Kabupaten Pidie,” terangnya mengenang kejadian pagi tadi.

Ini kedua kalinya Rudi merasakan gempa yang cukup dahsyat. Pertama saat Aceh diguncang gempa besar 9,2 SR pada 2004 lalu yang disertai tsunami. “Trauma yang dulu belum hilang, saat ini merasakan lagi. Semoga Allah SWT melindungi kita semua,” pungkasnya.

Sejauh ini, korban meninggal akibat gempa bumi di Pidie Jaya mencapai 27 orang, tiga di antaranya balita. Bangunan juga banyak yang roboh, tapi belum diketahui jumlah pastinya. Sementara korban luka-luka mencapai puluhan orang.

Pusat gempa pagi tadi berada 18 kilometer sebelah timur laut Kabupaten Pidie Jaya. Gempa berpusat di darat pada kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan, gempa tidak berpotensi tsunami.(okezone)

Related posts