Keburu Ditangkap, 2 Petisi Rachmawati Soekarnoputri Ini Belum Sempat Dibacakan

Metrobatam, Jakarta – Politikus Rachmawati Soekarnoputri menyiapkan dua petisi untuk dibacakan bersamaan dengan Aksi Bela Islam III, Jumat (2/12), sebelum dia ditangkap. Petisi pertama akan dibacakan di Lapangan Tugu Monas dan yang kedua akan dibacakan di Gedung DPR/MPR usai #aksi212 berakhir pada Jumat siang.

Kuasa hukum Rachmawati, Aldwin Rahadian mengatakan, kliennya telah menyusun dua petisi tersebut pada 1 Desember, namun belum sempat dibacakan dan ditangkap aparat.

Read More

Petisi pertama, soal penegakan hukum dan dukungan terhadap aksi solidaritas bela Islam. Penegakkan hukum yang Rachmawati yaitu segera memenjarakan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan penistaan agama.

“Petisi kedua, Ibu Rachma ingin memberi aspirasi ke pemerintah agar mengembalikan Undang-Undang Dasar 1945 sesuai aslinya, sebelum diamandemen. Ini rencananya disampaikan di DPR,” ujar Aldwin kepada CNNIndonesia.com, Minggu (4/12).

Petisi tersebut juga sempat dibahas dalam diskusi yang dihadiri Rachmawati di Universitas Bung Karno (UBK), kampus yang didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Pendidikan Soekarno. Yayasan ini diprakarsai oleh Rachmawati yang berdiri sejak 27 September 1981.

Petisi agar mengembalikan UUD 1945 sebagaimana aslinya pernah disampaikan Rachmawati dalam Orasi Ilmiah saat Wisuda Sarjana XIV UBK bertajuk “Kembali ke UUD 45” di Balai Sudirman, Jakarta, 16 November lalu.

Aldwin mengatakan, sebagian mereka yang juga ditangkap pada dini hari hingga pagi hari 2 Desember lalu juga ikut merumuskan dan menandatangani petisi tersebut. Namun Aldwin tak menjelaskan siapa saja nama perumus dan penandatangan itu.

Pengacara Yusril Ihza Mehendra sebelumnya menyatakan, penangkapan terhadap sejumlah pihak terduga makar oleh kepolisian diduga terkait pertemuan Rachmawati di UBK. Pertemuan itu disebut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan aktivis.

“Memang ada pertemuan para tokoh di tempat Ibu Rachma di UBK, itu terbuka. Setelah itu mungkin saja ada rapat-rapat di mana saya juga belum tahu,” ujar Yusril.

Rachmawati menjadi salah satu tokoh tersohor yang diciduk menjelang #aksi212. Selain dia, polisi juga mengamankan Sri Bintang Pamungkas, Rizal Kobar, dan Jamran. Ketiganya kini mendekam di penjara narkoba di Polda Metro Jaya.

Aparat juga mengamankan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen, eks Staf Ahli Panglima TNI Brigadir Jenderal (Purn) Adityawarman Thaha, Ketua Solidaritas Sahabat Cendana Firza Husein, aktivis politik Ratna Sarumpaet, dan musisi sekaligus calon Wakil Bupati Kabupaten Bekasi Ahmad Dhani.

Akan Kooperatif
Kuasa hukum Rachmawati, Aldwin Rahadian, menegaskan tuduhan makar ke kliennya terlalu mengada-ada. Rachmawati juga siap kooperatif dalam menjalani pemeriksaan.

“Ya nanti setelah selesai pemeriksaan, tentunya akan ada upaya lebih lanjut dari itu. Karena bu Rachmawati masih sakit, tapi kita akan siap dan kooperatif untuk mengikuti pemeriksaan nanti akan diklarifikasi semuanya. Saya kira ini hanya miss informasi dan miss komunikasi,” kata Aldwin saat mendampingi Buni Yani untuk mendaftarkan gugatan praperadilan di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Senin (5/12).

Aldwin berpendapat tidak ada pihak lain yang memberikan masukan pemikiran kepada Bu Rachmawati untuk melakukan perbuatan makar.

“Murni, bu Rachmawati itu orang yang kritis. Apalagi selalu mengadakan kajian ilmiah di kampusnya. Banyak menyampaikan soal suport terhadap aksi bela islam dan penegakan hukum untuk segera menangkap pak Ahok. Serta mengadakan, kompetisi soal kembali pada UUD asli,” jelasnya.

Saat disinggung apakah pihak Rachmawati juga akan mengajukan gugatan praperadilan, seperti yang dilakukan Buni Yani, hari ini. Menurutnya hal itu akan ditentukan setelah kondisi Rachmawati membaik.

“Menurut saya ini (makar) mengada-ada, ini terlalu jauh. Kalau makar itu yang terencana dan harus dipikirkan matang-matang. Kalau disebut mengandalkan power, saat massa bubar kan landai saja tidak ada perlawanan dan enggak ada yang tahu kalau Bu Rachmawati ditangkap, artinya memang tidak ada upaya-upaya perencanaan makar dari Bu Rachmawati,” ucapnya.

Meski sudah ditetapkan tersangka, Rachmawati tetap diperbolehkan pulang karena alasan kesehatan yang menurun.(mb/detik)

Related posts