Korban Meninggal Gempa Aceh Jadi 99 Orang, 752 Luka-luka

Metrobatam, Pidie Jaya – Perkembangan terakhir korban jiwa dari gempa 6,5 skala Richter yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) mencapai 99 orang meninggal dunia, dan 1 orang hilang, 136 luka berat, 616 luka ringan.

“Saat ini jumlah korban memang masih terus bertambah karena tim SAR gabungan terus menemukan jumlah korban. Sampai saat ini kami riliskan sesuai data dari BPBD Aceh 99 orang meninggal dunia. 1 orang hilang kemudian 136 luka berat dan luka 616 luka ringan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat ditemui dikantornya Graha BNPB Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (8/12).

Read More

Sutopo memberitahukan untuk data korban jiwa dan luka-luka begitu juga untuk bangunan yang rusak masih diprediksikan terus meningkat kedepannya. Dan untuk korban jiwa sangat beragam.

Kemudian, Sutopo memberitahukan jumlah pengungsi saat ini mencapai 3.267 jiwa yang tersebar dibeberapa tempat. Lalu, untuk kerusakan fisik meliputi 124 ruko rusak berat atau roboh. Kemudian 110 ruko rusak ringan. “429 Rumah rusah dimana 34 rusak berat atau roboh,” tutup Sutopo.

Seperti diketahui, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, diguncang gempa tektonik dengan kekuatan 6,5 SR. Gempa itu terjadi sekira pukul 05.03 WIB, akibat gempa itu, sejumlah bangunan warga dan jalanan mengalami kerusakan.

BNPB memaparkan penyebab banyaknya bangunan yang roboh akibat gempa bumi berkekuatan 6,5 skala Richter yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Gempa Aceh berpusat didarat dan berasal dari sesar Samalanga Sipopok yang arahnya dari barat daya ke timur laut dan sangat aktif. Dan dikarenakan gempa tersebut berkekuatan dengan intensitas 6 sampai 7 Skala MMI (Mercalli Modify Intensity). Dengan mekanisme gempa mendatar di kedalaman 15 km.

Loncat dari Lantai 2
Suasana dalam masjid di kompleks Pesantren Mudi Mesra, Samalanga, Bireuen, Aceh yang awalnya tenang mendadak berubah. Santri berlarian menyelamatkan diri saat gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang. Goyangan bumi itu terjadi beberapa saat sebelum azan salat subuh berkumandang.

Setelah santri berada di halaman masjid, tiba-tiba kubah masjid ambruk dan sebagian puing-puing berserakan di bawah. Suasana makin panik. Beberapa santri yang masih berada di kamarnya di lantai dua ada yang loncat untuk menyelamatkan diri.

“Ada 12 santri yang loncat dari lantai 2 mungkin karena panik dan trauma. Jumlah korban luka-luka yaitu 80 orang santri laki-laki dan 28 santri perempuan,” kata Wadir 2 Mudi Mesra Tgk H Sayed Mahyiddin saat ditemui di Pondok Pesantren Mudi Mesra, Kamis (8/12/2016).

Rata-rata santri mengalami luka lecet dan terkilir. Ada lima orang patah kaki dan saat ini sudah dalam perawatan di rumah sakit.

Pasca gempa, aktivitas belajar mengajar di sana ditiadakan. Santri dibolehkan pulang ataupun bertahan di pesantren. Mereka saat ini masih banyak yang memilih tidak meninggalkan tempat mengaji. “Ditiadakan dalam dua hari ini,” jelas Mahyiddin.

Di pondok pesantren Mudi, sejumlah bangunan retak dinding dan rusak tiangnya. Selain itu, satu bangunan yang dijadikan kampus Institut Agama Islam Al-Aziziyah rusak parah dan sudah tidak dapat digunakan.

Pihak pesantren sudah melapor kerusakan ini ke instansi terkait agar dilakukan evakuasi.”Kondisi sekarang ini memang tidak bisa kita pakai lagi. Kita menunggu bantuan alat berat untuk evakuasi agar tidak membahayakan karena di belakang banyak rumah warga dan rumah pimpinan,” ungkap Mahyiddin.(mbokezone/detik)

Related posts