Mantan TKW Ngaku Kenal Jaringan Teroris Melalui Facebook

Metrobatam, Purworejo – Ika Puspitasari (35) alias IP, terduga teroris asal Dusun Tegalsari, Desa Brengong, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengaku kenal dengan jaringan teroris melalui media sosial Facebook.

Perempuan kelahiran 1982 ini mengungkapkan sering menggunakan akun Facebook-nya saat rehat di tengah-tengah bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong.

Read More

“Dia mengaku berkenalan dengan para teroris melalui hubungan komunikasi Facebook. Dia saat di Hong Kong aktif menggunakan akun pribadi Facebook,” kata Kapolres Purworejo AKBP Satrio Wibowo, Jumat (16/12).

Ia melanjutkan, Ika sudah bertahun-tahun bekerja sebagai TKW di Hong Kong dan baru beberapa bulan pulang ke kampung halamannya. Bahkan dari hasil bekerja sebagai TKW di Hong Kong, Ika bisa membangun rumah bersebelahan dengan rumah orangtuanya. “Dia diduga terkait jaringan teroris Bom Bekasi,” pungkas Satrio.

Sementara ibu terduga teroris IP mengatakan, anaknya baru kembali ke Indonesia sejak dua bulan lalu. “Anak saya ini baru pulang dari Hongkong sekira dua bulan lalu. Anak saya seperti biasa bergaul dengan keluarga, tidak ada yang aneh,” ujarnya.

IP Diamankan ketika sedang membantu persiapan peringatan Maulid Nabi di musala kampungnya. Setelah mengamankan IP, polisi melanjutkan dengan melakukan penggeledahan di rumah yang ditinggali IP dan kediaman ayahnya Sudiyono.

“Saya tidak tahu apa yang dibawa polisi, yang jelas harapan kami, IP bisa langsung pulang dan tidak tersangkut masalah apapun,” tegasnya.

Kapolres Purworejo, AKBP Satrio Wibowo mengatakan, penangkapan tersebut diawali dengan kedatangan anggota Densus 88 Anti Teror untuk berkoordinasi.

“Mereka menyatakan ada satu tersangka terduga anggota jaringan Bom Bekasi yang ada di Purworejo, kami siapkan dukungan anggota untuk memback-up,” ujarnya.

Polisi menangkap IP tanpa perlawanan. Tersangka langsung dibawa ke Mapolres Purworejo untuk diinterogasi. Densus 88 dan tim Jihandak Polri juga melakukan penggeledahan di rumah yang ditinggali IP dan kediaman ayahnya, Sudiyono di Brenggong. Polisi mengamankan dokumen, sejumlah buku dan beberapa ponsel bekas. “Tidak ditemukan benda berbahaya di dua rumah itu,” ucapnya.

Satrio mengaku tidak mengetahui peran IP dalam jaringan teroris. “Soal itu menjadi ranah Densus 88 Anti Teror,” tuturnya(mb/okezone)

Related posts