Ngamuk dan Cakar Polisi, Tindakan Pegawai MA Arogan Ini Tak Patut Ditiru

Metrobatam, Jakarta – Aiptu Sutisna diam saja ketika seorang wanita mengamuk dan mencakarnya. Polisi lalu lintas (polantas) itu hanya berusaha menghindar dari amukan wanita bernama Dora Natalia.

Dora tercatat sebagai pegawai di Mahkamah Agung (MA). Dia marah-marah ketika hendak ditilang oleh Aiptu Sutisna. Tindakan Dora itu pun dinilai arogan.

Read More

“Tindakan oknum pegawai MA tersebut menunjukkan arogansi, ketidakpatuhan terhadap hukum serta kekerasan terhadap aparat penegak hukum. Apapun alasannya, tindakan tersebut tidak sepatutnya dilakukan, apalagi oleh orang yang berpendidikan dan bekerja di institusi yudikatif. Terlebih lagi yang bersangkutan diduga melanggar lalu lintas,” ucap komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, saat berbincang, Selasa (13/12) malam.

Tentang respons Sutisna yang hanya diam dan menghindar, Poengky menyebut hal itu memang sudah seharusnya dilakukan. Polisi sebagai pelayan dan pengayom masyarakat tidak boleh kemudian menjadi sewenang-wenang.

“Saya mengapresiasi kesabaran anggota Polri dalam menghadapi hal ini dan mendukung yang bersangkutan melaporkan oknum pegawai MA tersebut ke pihak yang berwajib, agar ada efek jera bagi si oknum agar tidak mengulangi lagi perbuatannya,” ujarnya.

“Jika ada yang menghalangi dan bahkan menyerang aparat kepolisian ketika sedang menjalankan tugasnya, maka orang tersebut harus berhadapan dengan hukum,” imbuh Poengky.

Akan Panggil Dora
Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur AKBP Sapta Maulana membenarkan identitas dan pekerjaan Dora di Mahkamah Agung (MA). “Iya, tapi yang bersangkutan belum kami ambil keterangannya,” ujar Sapta, Selasa (13/12).

Sapta mengatakan, penyidik Satreskrim Polres Jakarta Barat akan memanggil Dora atas laporan yang dibuat oleh korban, Aiptu Sutisna, pasca kejadian tersebut. Sapta mengatakan, Sutisna telah diambil keterangan di Polres Jakarta Timur atas laporannya itu. Sutisna juga menyerahkan bukti-bukti terkait peristiwa yang sempat menjadi tontonan warga itu.

“Barang buktinya bajunya yang robek-robek, pangkatnya yang copot sama rekaman video, itu yang ambil video itu anggota juga, rekan korban yang sedang bertugas,” kata Sapta.

Menurut Sapta, wanita tersebut melakukan perbuatan itu karena emosi lantaran ditilang oleh korban. “Mau masuk busway, kemudian ditilang sama anggota, tidak terima,” imbuhnya.

Kakorlantas Polri Irjen Pol Agung Budi Maryoto pun angkat bicara atas kejadian itu. “Alhamdulillah, polantasnya sabar,” kata Agung.

Agung pun menyerahkan kejadian itu sepenuhnya kepada hukum, apalagi Aiptu Sutisna yang dicakar Dora memang telah melaporkan hal itu ke polisi. “Sekarang yang bersangkutan sedang proses hukum,” ucapnya.

Tentang tindakan anak buahnya yang pasif saat menerima ‘serangan’ dari Dora, Agung mengatakan bahwa hal itu sudah menjadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) seorang polantas. Dia menegaskan agar anggotanya tidak emosional saat melakukan penindakan di lapangan.

“Memang itu bagian dari tupoksi polri supaya tidak emosional. Karena Polri tidak benci orangnya tapi perbuatannya yang ditindak,” ujar Agung yang sebentar lagi akan dipindahtugaskan sebagai Kapolda Sumatera Selatan.

Sementara itu, Kabiro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur mengatakan kalau dari puluhan ribu pegawai MA yang bekerja, tentu ada saja satu dia pegawai yang nakal. Dia pun menegaskan bahwa perbuatan Dora harus dipertanggungjawabkan.

“Satu dua yang mungkin nakal. Ya sementara ini setiap orang harus bertanggung jawab,” ucap Ridwan.

Dia mengatakan dalam institusinya tidak mengenal kata perlindungan terhadap pegawai yang bersalah. Oleh karena itu, perkara Dora pun diserahkan kepada polisi. “Setiap perbuatan hukum kita serahkan kepada berwajib semoga bisa diselesaikan dengan baik. Setiap orang yang berbuat harus bertanggung jawab,” ujar Ridwan.(mb/detik)

Related posts