Panglima TNI Lepas 13 Jenazah Korban Hercules Jatuh

Metrobatam, Malang – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo melepas 13 jenazah yang disemayamkan di Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Senin (19/12) dini hari.

Jenderal Gatot tiba di Skadron Udara 32 sekira pukul 00.20 WIB. Bersama Komandan Lanud Abdulrachman Saleh dan petinggi TNI lainnya, Panglima TNI mengunjungi satu per satu keluarga korban yang berada di belakang peti jenazah.

Read More

Usai memberikan penghormatan kepada para korban, Jenderal Gatot menuju keluarga jenazah pilot Hercules, Mayor Pnb Marlon A Kawer, dan dilanjutkan ke keluarga korban lainnya hingga peti jenazah ke-13.

Selanjutnya, ke-13 peti jenazah diberangkatkan ke rumah duka dan ada yang dimakamkan dini hari ini dan juga Senin pagi. Sementara peti jenazah Kapten Lek Rino Pratama masih berada di Hanggar Skadron 32 dan rencananya dimakamkan di Banjarmasin. Kapten Rino ikut menumpang pesawat ini karena akan menuju tempat dinasnya di Papua.

Panglima TNI menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya prajurit-prajurit terbaik TNI AU dalam musibah pesawat Hercules pagi tadi di Wamena. “Semoga Tuhan YME mengampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Allah SWT,” kata Jenderal Gatot Nurmantyo, Senin (19/12) dini hari.

Panglima juga mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Wamena, Polres, Lanud, Paskhas, Basarnas, dan Batalyon Infanteri 756, yang telah bersama-sama bahu membahu membantu mengevakuasi jenazah, sehingga bisa segera diterbangkan ke Malang.

“Saya juga mengucapkan penghargaan dan ucapan terima kasih atas dedikasi tim DVI Polda Jatim, yang sungguh-sungguh mengidentifikasi jenazah sehingga ke 13 jenazah bisa teridentifikasi dan siap dimakamkan mulai malam ini,” kata Jenderal Gatot.

Dalam kesempatan itu, Panglima juga mengatakan pesawat Hercules masih dibutuhkan oleh TNI Angkatan Udara. Alasannya, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau hanya mampu dijangkau oleh Hercules.

“Tidak ada moratorium untuk Hercules, kita masih membutuhkan, karena geografis wilayah,” tegasnya.

Dia menegaskan, instruksi Presiden Joko Widodo agar tidak lagi membeli pesawat bekas, sudah dijalankan sejak tragedi jatuhnya Hercules di Medan, tahun lalu. “Sudah kami jalankan, soal pembelian pesawat harus baru. Itu mulai diberlakukan pascakecelakaan di Medan,” tandasnya.

Ditambahkan, kebijakan tersebut juga berlaku bagi kekuatan alutista di lingkungan TNI. “Alutista juga begitu,” tambahnya.

Lakukan Investigasi
Di tempat terpisah Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Alamsyhari meminta Tentara Nasional indonesia (TNI) untuk membantu mengurus korban dari jatuhnya pesawat Hercules C-130 dengan nomor pesawat A-1334 di Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua pada Minggu 18 Desember 2016.

Politikus PKS ini meminta TNI untuk melakukan investigasi atas jatuhnya Hercules C-130. Pasalnya, lanjut Abdul, usia peremajaan pesawat hasil hibah dari Royal Australia Armed Forces (RAAF) tersebut baru saja diserahterimakan 10 bulan lalu.

“Peristiwa kecelakaan pesawat maupun helikopter TNI ini adalah yang keenam kali terjadi di 2016 ini. Maka Komisi I mendesak TNI melakukan evaluasi menyeluruh atas kelayakan dan keselamatan operasi seluruh pesawat TNI hasil upgrade atau peremajaan yang diperoleh dari Luar Negeri. Sekaligus juga meng-grounded untuk pesawat yang tidak layak operasi,” jelasnya melalui keterangan tertulis, Senin (19/12).

Abdul menambahkan, Komisi I mendesak agar peremajaan pesawat dari hibah luar negeri melibatkan industri pertahanan nasional, yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Hal ini agar peremajaan tersebut dijamin kelayakan operasinya oleh PTDI.

“Komisi I melalui Panja Alutsista TNI akan mengundang pihak Kemenhan (Kementerian Pertahanan), TNI, dan meminta penjelasan atas kecelakaan pesawat TNI di 2016 ini. Sekaligus akan meminta penjelasan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) atas kinerja mereka dalam mengawasi kelayakan kontrak setiap alutsista TNI,” tutupnya.

Sedangkan Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, mempertanyakan pihak yang mengendalikan pesawat Hercules milik TNI AU jenis C-130 HS nomor registrasi A-1334 saat jatuh di Gunung Lisuwa, Wamena, Papua.

Pasalnya, sebelum jatuh diketahui tujuan pesawat ini melakukan perjalanan dalam rangka latihan navigasi yang memang rutin digelar. “Mengingat tingkat kesulitan yang tinggi di Wamena, pertanyaan saya siapa yang saat itu tengah mengendalikan pesawat, instrukturkah atau pilot?” kata Fahmi kepada Okezone, Senin (19/12).

Oleh karena itu, kata dia, sebaiknya ditunggu informasi dari pihak TNI AU sebelum menyikapi apakah ada persoalan lain di luar cuaca yang menyebabkan jatuhnya pesawat Hercules tersebut sehingga menewaskan 13 awaknya.

“Ini penerbangan A-1334 kan penerbangan latihan sesuai perintah Pangkoopsau II. Artinya, ada instruktur yang dilatih dalam penerbangan itu. Latihan pun menyangkut navigasi. Tingkat kesulitan mendarat dan mengudara di Wamena dibilang cukup tinggi. Cuaca sangat mudah berubah secara ekstrem,” ulasnya.

Untuk mendarat dan mengudara suatu pesawat, menurut Fahmi, adalah situasi kritis bagi sebuah pesawat. “Jarak pandang salah satu tolak ukurnya. Nah di Wamena risikonya bisa sangat besar ketika manuver sedang dilakukan lalu kabut mendadak turun menghalangi jarak pandang sang pilot. Karena saya lihat perintah latihannya menyangkut navigasi kok enggak ada instruktur navigasinya ya?” katanya.(mb/okezone)

Related posts