Soal Penangkapan Teroris, Kapolri Tegaskan Densus 88 Bukan Sutradara

Jakarta – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menampik dugaan pengungkapan kasus terorisme hanya pengalihan isu. Tito menjamin kinerja profesional Densus 88 Antiteror Polri.

“Rekan-rekan yang ada di Densus ini, Polri, ini bukan sutradara. Kami tidak pernah belajar jadi sutradara. Para tersangka yang ditangkap ini juga bukan aktor, bukan aktris yang pandai memainkan drama,” ujar Tito di Rupatama Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (16/12).

Read More

Menurut Tito mustahil ada orang yang bersedia ‘dikorbankan’ untuk rekayasa pengalihan isu. Sebab para terduga teroris ini diancam hukuman pidana berat.

“Jadi sutradara Hollywood seperti apapun yang jago, tidak akan mampu dia merekayasa kasus seperi ini. Karena mereka bukan aktor, ngapain juga dia pasang badan seolah-olah mau ngebom. Ini nanti ancaman bisa kena hukuman mati,” sambung dia.

Mantan Kepala Densus 88 ini mengatakan agar masyarakat tidak terpengaruh dengan dugaan-dugaan yang disampaikan tanpa bukti. Sebab Polri punya kinerja profesional.

“Jadi tolong ya masyarakat jangan mudah terpengaruh, mudah berkomentar pengalihan isu. Kalau ada bukti bahwa ini rekayasa, tunjukkan buktinya itu dan kita akan lakukan tindakan tegas,” ujarnya.

Untuk itu Kapolri meminta agar publik jangan asal menyebut penangkapan teroris sebagai pengalihan isu apabila tidak memiliki bukti kuat. Tito menegaskan agar siapa pun, termasuk anggota DPR, agar jangan mudah menyebut kinerja yang dilakukan kepolisian sebagai pengalihan isu.

“Jangan terlalu mudah menyampaikan (pengalihan isu). Apalagi kalau seorang anggota DPR pejabat menyampaikan pengalihan isu. Kita ingin tanya,” tegas Tito.

Pernyataan Tito itu menyinggung tentang anggota DPR Eko Hendro Purnomo yang disebut mengatakan penangkapan teroris adalah pengalihan isu dari sidang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tito pun menyebut bahwa Eko telah dipanggil untuk dimintai keterangan dan menyebut bisa saja Eko dikenai pidana.

“Sementara ini kita akan undang. Kita lihat punya data enggak. Enggak main-main kita. Kalau tidak punya data, pertanggungjawabkan. Bisa pidana, bisa juga minta maaf ke publik,” ujar Tito.

“Jadi sekali lagi, pengalihan isu tidak ada. Jadi teman-teman berdasarkan kerja keras mereka. Kegiatan intelijen yang memonitor terus 24 jam,” tegasnya.(mb/detik)

Related posts