3 Mahasiswa UII Tewas, Sultan: Tidak Bagus untuk Dunia Pendidikan

Metrobatam, Yogyakarta – Latihan pendidikan dasar Mapala UII Yogyakarta memakan korban jiwa. Tiga mahasiswa tewas setelah mengikuti Diklatsar The Grand Camping (TGC) yang digelar Mapala Universitas Islam Indonesia (UII).

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap kejadian tersebut tidak terulang. Peristiwa tersebut semestinya bisa dihindari. Tindak kekerasan yang terjadi ini tidak baik bagi dunia pendidikan.

Read More

“Bagi dunia pendidikan kurang bagus. Mestinya itu bisa dihindari. Yang muda harus merasa dilindungi oleh yang senior. Bukan sebaliknya, yang muda manut yang senior sehingga kondisi lelah tetap dipaksa, ini yang menimbulkan masalah,” kata Sultan HB X di kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (24/1/2017).

Sultan mengatakan, sebelum melakukan kegiatan Diklatsar Mapala, sebaiknya dilakukan cek kesehatan kepada para peserta. Kondisi kesehatan peserta harus dicek setiap hari selama kegiatan karena tidak hanya menyangkut fisik, tetapi juga psikis.

Tiga mahasiswa UII, yakni Ilham Nurfadmi Listia Adi (20), Muhammad Fadli (19), dan Syaits Asyam (19), meninggal dunia setelah menggikuti kegiatan TGC di lereng selatan Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada 13-20 Januari 2017.

Minta Tanggungjawab
Syafi’i tidak bisa menyembunyikan penyesalannya atas peristiwa yang menewaskan putranya, Ilham Nurfadmi Listia Adi (20). Kepada Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Harsoyo, Syafi’i meminta pertanggungjawaban pihak kampus.

“Anak saya babak belur, Pak. Apa tidak ada pembinaan?” tanya Syafi’i kepada Harsoyo di depan ruang jenazah RS Bethesda, Yogyakarta, Selasa (24/1).

Syafi’i saat itu baru saja tiba di rumah sakit dari Lombok. Begitu menerima kabar anaknya masuk rumah sakit, dia langsung memutuskan terbang ke Yogyakarta.

Syafi’i juga mengaku sempat berbicara dengan anaknya via telepon beberapa jam sebelum kematiannya. “Dia bilang kalau dia dipukuli, dengan patah-patah bicaranya,” imbuhnya dengan nada sedih.

Syafi’i meminta UII bertanggung jawab atas apa yang dialami anaknya. Dia juga telah melaporkan kasus ini ke Polda DIY. “Tadi laporan saya sudah diterima, walaupun saya dianjurkan lapor ke Karanganyar,” ujarnya.

Dia berharap UII bisa berkomitmen mengungkap kasus ini secara terbuka. Syafi’i juga berharap lebih baik Mapala Unisi dibubarkan saja.

“Bubarkan saja itu, Pak. Dari awal saya sudah tidak setuju anak saya ikut di sana. Saya menyekolahkan anak saya di UII agar anak saya menjadi saleh dan berguna, bukan seperti ini,” kata Syafi’i.(mb/detik)

Related posts