Jokowi: BUMN Tidak Baik Jangan Bebani yang Baik

Metrobatam, Jakarta – Pembentukan Holding BUMN segera bisa terealisasi pasca lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 72/2016. Presiden Joko Widodo dalam arahannya di Istana Negara, berkali-kali menekankan bahwa manajemen perusahaan yang sehat adalah hal yang penting untuk diperhatikan dalam pembentukan Holding BUMN ini.

Jangan sampai, dengan pembentukan holding ini, BUMN yang sehat malah terpengaruh oleh BUMN lain yang kondisi keuangannya kurang baik.

Read More

“Mungkin untuk BUMN yang sudah baik bisa (dibentuk Holding). Tapi masih ada (BUMN) yang tidak baik. Jangan sampai membebani yang baik,” tegas Jokowi di depan Menteri BUMN Rini Soemarno dan ratusan Dirut BUMN di Komplek Istana Negara, Rabu (25/1).

Ia kembali menegaskan, pembentukan Holding BUMN bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas BUMN-BUMN yang ada dimiliki Indonesia agar bisa bersaing dengan BUMN negara lain.

Namun, bila BUMN tidak sehat dicampur dengan BUMN yang sehat, dikhawatirkan cita-cita meningkatkan kualitas dan daya saing BUMN RI malah tidak bisa tercapai. “Yang baik jadi tidak baik. Enak dong yang tidak baik,” tegas Jokowi lagi.

Agar kekhawatiran tersebut tidak terjadi, Jokowi mengatakan, dalam pembentukan Holding BUMN harus melibatkan lembaga konsultasi independen yang kompeten dan transparan.

“Libatkan banyak institusi terbuka, sehingga semua bisa memberikan masukan untuk perbaikan BUMN. Saya optimistis sekali BUMN akan menjadi baik. Tapi apa yang saya sampaikan, hati-hati,” tandas dia.

Sindir Emirsyah Satar
Dalam kesempatan itu, presiden juga menyindir keras kasus dugaan suap pembelian mesin pesawat Rolls-Royce ke Emirsyah Satar. Jokowi berpesan ke semua direktur BUMN agar hati-hati dan selalu lurus dalam menjalankan bisnis.

“Saya minta BUMN jangan sampai ada yang kena masalah lagi. Saya nggak mau ada yang kena masalah lagi. Hati-hati semuanya, governance hati-hati,” kata Jokowi memperingatkan dengan serius.

Dia menjelaskan bahwa kini eranya keterbukaan informasi. Penyelewengan atau korupsi yang dilakukan sekarang bisa terungkap lima tahun mendatang. Maka semua harus menghindari korupsi.

“Kalau nggak ngambil ya jangan takut. Ngapain takut? Wong nggak ngambil aja kok,” ujar Jokowi menenangkan.

Mulailah, Jokowi menyebut ada kasus yang bermula sejak 2012, namun baru terungkap saat ini. Dia tak menyebut perusahaan BUMN apa yang dia maksud. “Hati-hati, kejadiannya 2012 dan ketemunya sekarang. Hati-hati! Saya nggak ngomong BUMN mana,” kata Jokowi.

“Tapi gambarnya ada,” imbuh Jokowi. Sedetik kemudian, gambar presentasi di belakang Jokowi menunjukkan gambar pesawat dari maskapai Garuda Indonesia. Ratusan direktur BUMN tertawa mendengar gaya sentil Jokowi barusan.

Sebagaimana diketahui, PT Garuda Indonesia adalah BUMN. Emirsyah adalah mantan Direktur Utama Garuda. KPK menduga Emirsyah menerima suap dalam bentuk uang dan barang, yaitu dalam mata uang Euro sebesar 1,2 juta Euro, dan USD 180 ribu, atau setara dengan Rp 20 miliar.

Selain itu, dia diduga menerima suap dalam bentuk barang dengan total nilai USD 2 juta. Rolls-Royce meminta maaf perihal kasus ini. Rolls-Royce juga diharuskan membayar denda 671 juta Poundsterling atau sekitar Rp 11 triliun. Emirsyah membantah.

“Sepengetahuan saya, selama saya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia, saya tidak pernah melakukan perbuatan yang koruptif ataupun menerima. sesuatu yang berkaitan dengan jabatan saya,” kata Emirsyah.

(mb/detik)

Related posts