Mengenal Peranakan, Memahami Keberagaman Indonesia

Metrobatam, Jakarta – Setiap tahun ketika memasuki Tahun Baru China atau Imlek, segala nuansa berubah jadi merah dan kaya akan dekorasi oriental dan dirayakan oleh setiap etnis Tionghoa di Indonesia, termasuk keturunannya, yang juga kerap disebut peranakan.

Istilah peranakan sendiri berarti keturunan yang merupakan percampuran bangsa Indonesia dengan orang asing. Peranakan Tionghoa berarti keturunan dari perkawinan antara orang Indonesia dan Tionghoa.

Read More

Peranakan itu juga melahirkan tradisi baru, yang juga merupakan asimilasi dua budaya. Namun, Imlek, yang merupakan tradisi asli Tionghoa, terus mengakar dan bahkan kini jadi bagian tersendiri dari keragaman masyarakat Indonesia.

Terlebih, setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meneken Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang penghapusan Instruksi Presiden Soeharto pada 1967. Keputusan tersebut mencabut peraturan yang membatasi gerak etnis Tionghoa di Indonesia. Sejak saat itu, mereka yang disebut dan merasa sebagai peranakan Tionghoa mulai merayakan hari besar seperti Imlek secara terbuka.

Berarti, setidaknya sudah 16 kali pula perayaan Imlek dan semua yang berbau peranakan Tionghoa menjadi bagian dari masyarakat, seperti yang terlihat di sudut-sudut kota, termasuk di Tanah Betawi, Jakarta.

Peranakan Tionghoa sendiri kini dianggap bukan lagi hanya sekadar merujuk pada mereka yang memiliki keturunan fusi genetis atau campuran, melainkan sudah melebar hingga menjadi identitas budaya.

Manifestasi budaya peranakan tersebut pada sejatinya sudah jadi bagian keberagaman Indonesia, seperti yang terlihat dalam bentuk kuliner, busana, arsitektur, hingga tradisi.

Di bidang kuliner, beberapa kuliner khas peranakan sudah jadi bagian masyarakat seperti lontong cap go meh, kue keranjang, bahkan mi yang disantap jutaan orang Indonesia setiap hari.

Namun masih banyak yang belum mengetahui tentang yu sheng, tradisi kuliner peranakan yang memiliki makna mendalam yaitu berharap keberkahan setahun ke depan.

Di bidang busana, ada kebaya encim. Kebaya ini banyak dikenal oleh masyarakat Betawi dan digunakan sehari-hari. Namun pada asalnya, kebaya ini sangat berkaitan dengan peranakan Tionghoa di masa lalu.

Masih banyak kisah yang belum terungkap dari mereka, para peranakan Tionghoa. Dan karenanya, mengenal mereka lebih dekat akan membawa pemahaman mendalam keberagaman Indonesia yang sudah ada bahkan sebelum negara ini berdiri.

Begitu juga dengan ucapan Gong Xi Fat Cai yang biasanya menyertai di momen Imlek. Ucapan tersebut bukanlah berarti selamat tahun baru, melainkan ‘Selamat Sejahtera’, yang berkaitan dengan kesejahteraan dan keselamatan dari era Tiongkok kuno.

(mb/cnn indonesia)

Related posts