Populasinya Makin Kritis, Harimau Sumatera Diambang Kepunahan

Metrobatam, Palembang – Populasi harimau di kawasan Sembilang Dangku, Sumatera Selatan saat ini terancam punah. Pasalnya, keberadaan satwa dilindungi itu sekarang diperkirakan hanya tinggal dua ekor saja.

“Sekarang ini terdeteksi dari keberadaan harimau asli Sumatera yang berjumlah enam hingga delapan ekor pada tahun 2013 itu, kini hanya tersisa dua ekor harimau jantan dan betina saja,” kata Senior Konservasi Biologi Zoological Society of London, Dr Asep Adhikerana di Palembang, Rabu (11/1/2017).

Read More

Ia menjelaskan, Harimau Sumatera atau Panthera Tigris Sumatrae adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di Pulau Sumatera, yang merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN.

“Keberadaan harimau sumatera di kawasan Sembilang Dangku cukup mengkhawatirkan, karena di tahun 2013 masih ada 6-8 ekor, dan pada tahun 2015 pascakebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan hanya dijumpai dua ekor lagi. Sementara, sisanya tidak tahu kemana, mungkin lari ke utara ke arah Jambi atau justru diburu orang,” papar Asep.

Menurut dia, pascakebakaran besar hutan dan lahan tahun lalu habitat harimau di Dangku mulai rusak, ditambah lagi aksi perambahan, penebangan liar dan eksplorasi kebun sawit, hingga kini satwa pemakan daging mentah itu belum ditemukan.

“Sejatinya tidak ada kawasan yang menjadi ancaman harimau, selama di dalam kawasan ada mata rantai makanan bagi hewan pemangsa ini, seperti kancil, rusa, pelanduk, babi maka kawasan tersebut cocok untuk harimau,” ulas dia.

Menurut dia, cara untuk mengembalikan populasi harimau yakni dengan melakukan restorasi kawasan yang menjadi habitat harimau. Restorasi atau penanaman kembali dengan pengkayaan vegetasi dan penjagaan kawasan hutan tentunya.

Sementara, untuk memantau perkembangan harimau dan memotret keberadaannya di kawasan hutan konservasi ditempatkan 20 titik kamera trap pemantau. Namun, keberadaan kamera pemantau pun lanjut Asep, ternyata tidak aman lantaran tak luput dari aksi pencurian.

“Kasus pencurian kamera trap diduga hanya mengincar rekaman keberadaan harimau yang terekam oleh kamera tersebut. Pencurian kamera trap diduga dilakukan oleh para pemburu untuk kepentingan perburuan liar. Dalam hal ini perlu dukungan pihak terkait untuk memberikan sanksi tegas terhadap perburuan liar,” tutupnya.(mb/okezone)

Related posts