RI Stop Kerja Sama, PM Australia Berharap Masalah Segera Selesai

Metrobatam, Jakarta – Indonesia berencana menghentikan kerja sama militer dengan Australia terkait insiden Pancagila. Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull berharap masalah bisa segera diselesaikan.

“Saya berharap agar hal ini diselesaikan secepat mungkin,” ungkap Turnbull dalam sebuah pernyataan seperti dilansir 9news, Jumat (6/1).

Read More

Rencana penghentian kerja sama militer merupakan buntut dari pelatihan di Barak Campbell di kota Perth, Australia barat, yang menghina Indonesia. Temuan material pelatihan di pangkalan militer itu menyinggung bangsa Indonesia.

Presiden Joko Widodo sudah menerima laporan soal rencana penghentian kerja sama antara Indonesia dan Australia. Ia memerintahkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Menhan Ryamizard Ryacudu untuk menangani permasalahan ini. Meski begitu Jokowi memastikan hubungan antara Indonesia dan Australia tetap baik.

“Saya mengakui dan menghargai komitmen Presiden Joko Widodo untuk kemitraan strategis antara kedua negara kita dan menghargai persahabatan pribadi kita,” kata Turnbull.

Pemerintah Australia melalui Menhan Marise Payne sudah secara resmi meminta maaf dan menyampaikan penyesalannya terkait permasalahan itu. Australia tengah melakukan penyelidikan. Guna penyelidikan, pihak angkatan bersenjata Australia menghentikan sementara pelatihan dan pendidikan sekolah bahasa di pangkalan militer yang berlokasi di Perth itu. Sedangkan oknum perwira Australia yang merupakan Kepala Sekolah Pusat Bahasa di pangkalan militer tersebut diberi sanksi tegas dengan diberikan skorsing.

“Kami telah menyatakan penyesalan kami bahwa ini terjadi dan bahwa kesalahan telah terjadi. Saya pikir sudah tepat ketika mitra penting menyampaikan kekhawatiran mereka pada Anda,” ujar Payne kepada para wartawan di Sydney, Australia seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (5/1).

Presiden Jokowi menegaskan Indonesia dan Australia sudah sepakat saling menghormati dan tidak ikut campur soal urusan dalam negeri masing-masing. Kesepakatan tersebut pun menurutnya harus dihormati.

“Kita kan sudah sepakat, Indonesia-Australia sudah sepakat untuk saling menghormati, untuk saling menghargai dan tidak campur tangan urusan dalam negeri masing-masing. Saya kira kita sepakat itu,” tegas Jokowi, Kamis (5/1).

Meski menyatakan hubungan antara Indonesia dan Australia tetap baik, dia meminta masalah tersebut untuk diatasi. “Ya ini masalahnya biar di-clear-kan dulu. Karena juga masalah, itu meskipun di tingkat operasional, tapi ini masalah prinsip,” tambah Jokowi.

Peringatan untuk Australia
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menghentikan kerja sama militer Indonesia dan Australia akibat simbol negara yang diplesetkan. Rencana tersebut dinilai sebagai sebuah peringatan agar Australia tidak berulah kembali.

“Ini mesti ada cooling down. Supaya mereka menyadari pentingnya hubungan kedua belah pihak,” kata Pengamat Intelijen dan Militer Universitas Indonesia, Wawan H. Purwanto saat berbincang dengan detikcom, Kamis (5/1) malam.

Wawan menilai perlu ada evaluasi kerja sama di kedua belah pihak antara Indonesia maupun Australia. Menurutnya, perbedaan kultur antara Indonesia dan Australia menjadi penyebab reaksi gejolak adanya plesetan simbol negara oleh negara tetangga itu.

“Di masyarakat terjadi, adanya gejolak, adanya pemikiran yang berbeda. Nah ini karena semua beda culture, mungkin bagi mereka biasa, bagi kita belum tentu. Oleh karenanya ini harus sama-sama introspeksi dan nantinya juga kan pulih lagi. Nanti, karena mengingatkan bahwa menjadi ini menjadi kewajiban bersama,” tutur Wawan.

Ketegangan Australia dan Indonesia bukan hanya terjadi kali ini saja. Tercatat, ketegangan kedua negara pertama terjadi para 1999 lalu. Yakni karena Australia menuding Kopassus melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Timor Timur.

Pada tahun 2013, TNI juga pernah memutuskan kerja sama dengan Australia. Pemutusan kerja sama tersebut atas reaksi ulah negeri Kangguru itu yang menyadap komunikasi Presiden Bambang Susilo Yudhoyono.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membenarkan rencana penghentian kerja sama militer antara Indonesia dan Australia. Kerja sama militer diputus karena insiden penghinaan terhadap Pancasila pada pelatihan di Barak Campbell di kota Perth.

“Tentang tentara yang dulu, Timor Leste, Papua juga harus merdeka, dan tentang Pancasila yang diplesetkan jadi Pancagila,” ujar Gatot kepada wartawan di Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (5/1).(mb/detik)

Related posts