Selain Bakar Markas GMBI di Bogor dan Tasik, FPI Juga Rusak Markas GMBI Ciamis

Metrobatam, Jakarta – Ketua umum Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) M Fauzan Rahman mengimbau anggotanya tidak terprovokasi terkait aksi perusakan dan pembakaran markasnya di beberapa daerah. Dia percaya, polisi akan segera menindak para pelaku perusakan.

“GMBI itu 1 komando, tidak boleh ada aksi lain-lain. Jangan ada gerak sendiri. Kita serahkan semua kepada penegak hukum supaya diusut,” ucap Fauzan saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (13/1).

Read More

Fauzan mendapat laporan ada 3 markas GMBI yang dirusak dan dibakar. Markas-markas yang dirusak dan dibakar itu berada di :

1. Kota Ciamis (dirusak)
2. Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya (dibakar)
3. Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. (dibakar)

“Kita tidak mau tuduh-tuduh, kita semua sepakat pakai jalur proses hukum. Ini kejadian menandakan yang preman itu siapa,” ucapnya.

Dia berpesan kepada anggotanya untuk tidak termakan isu provokasi dan kabar hoax. “Jangan ada yang terpancing, kita satu komando,” ucapnya.

Fauzan juga berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini. Menurutnya, kejadian seperti ini bisa menimbulkan keresahan di masyarakat. “Kita minta aparat untuk menindak aksi premanisme dan tindakan anarkis ini,” ucapnya.

Kepala Divisi Pengamanan GMBI Kabupaten Ciamis, Omay Komarudin menduga perusakan tersebut sebagai imbas dari gesekan di Bandung pada Kamis siang. “Kemungkinan (penyerangan markas GMBI) imbas gesekan di Bandung kemarin,” kata Omay Komarudin saat ditemui di Ciamis, Jawa Barat, Jumat (13/1).

Atas perusakan tersebut, Omay menegaskan bahwa GMBI tidak akan melakukan serangan balasan. “Kami tak akan membalas,” kata Omay Komarudin.

Diminta Menahan Diri
Polri meminta anggota ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan anggota Front Pembela Islam (FPI) sama-sama menahan diri. Kedua ormas itu diharapkan tidak terprovokasi oleh beredarnya informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

“Kedua ormas harus menahan diri, jangan terprovokasi,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto saat dihubungi detikcom, Jumat (13/1).

Polri berharap kedua belah pihak meredakan ketegangan masing-masing anggotanya menyusul dibakarnya markas GMBI di Kampung Tegalwaru RT 05/03 Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Bogor.

“Dengan adanya peristiwa tersebut, kita mengharapkan semua warga di Bandung maupun di Bogor yang tergabung dalam ormas agar bisa melihat peristiwa tersebut secara bijaksana. Jangan terpancing oleh provokasi pihak mana pun. Jangan tersulut oleh berita-berita tidak benar atau berita yang tidak diketahui sumbernya,” tutur Rikwanto.

Rikwanto menegaskan polisi akan menindak tegas siapa pun yang melakukan pelanggaran hukum, seperti penganiayaan ataupun perusakan.

“Kalau memang melakukan upaya melawan hukum perusakan dan penganiayaan, di samping melanggar hukum, juga akan menimbulkan reaksi dari pihak-pihak yang diserang dan dirusak dan tidak bagus bagi situasi sosial masyarakat,” imbuhnya.

Pembakaran markas GMBI diduga karena informasi berkembangnya isu anggota FPI atas nama Syarief menjadi korban penusukan dan perusakan mobil akibat bentrok di Mapolda Jabar seusai pemeriksaan Imam Besar FPI Habib Rizieq, Kamis (12/1). Hal ini disebut memicu kemarahan massa FPI Ciampea.

“Atas kejadian tersebut mengakibatkan kerugian satu buah rumah dan sekretariat GMBI dibakar. Tidak ada korban jiwa,” kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus dalam keterangannya, Jumat (13/1).

Polisi menduga pelaku pembakaran markas GMBI di Bogor adalah anggota FPI. Namun Panglima FPI Maman Suryadi meminta agar ormasnya tidak dikaitkan dengan isu anarkis.

“Saya rasa jangan selalu mengarah tuduhan-tuduhan terhadap FPI seperti itu ya. Lihat pokok permasalahannya. GMBI ini siapa, gitu, kan,” kata Maman saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (13/1).

“Sekarang kita ini kan korban, selalu mengisukan kalau FPI yang selalu membuat hal-hal yang seolah-olah anarkis,” sambungnya.(mb/detik)

Related posts