Susi Sebut Industri yang Tak Ramah Pada Lautan Harus Mati

Metrobatam, Nusa Dua – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menegaskan komitmennya untuk menjaga laut Indonesia tetap lestari dan berkelanjutan. Salah satu langkahnya adalah melarang penggunaan alat tangkap cantrang untuk menangkap ikan di perairan Indonesia, karena alat tangkap ini tidak ramah lingkungan dan merusak ekosistem laut.

Namun demikian, di sisi lain tangkapan nelayan cantrang selama ini dibutuhkan oleh industri Surimi yang ada di Indonesia untuk memasok bahan bakunya. Surimi merupakan daging ikan yang dilumatkan, yang menjadi bahan baku untuk produk-produk olahan ikan seperti bakso, crabstick dan tempura.

Read More

Dengan semakin berkurangnya pasokan bahan baku untuk pabrik Surimi ini lantaran adanya larangan penggunaan cantrang, maka pabrik-pabrik Surimi yang ada di Indonesia pun terancam tutup. Susi mengaku tak masalah apabila pabrik Surimi yang ada di Indonesia pada akhirnya tutup, karena keberlangsungan pabrik ini menurutnya bisa mengancam keberlangsungan laut Indonesia.

“Kalau surimi itu tidak padat karya. Yang padat karya itu freezing facility. Itu padat karya. Kalau surimi, itu robotic. Itu yang menghancurkan industri yang sebenarnya,” kata Susi saat ditemui di sela acara World Oceans Summit di Nusa Dua, Bali, Jumat (24/2).

“Yang ada, ya memang industri harus mati, harus berhenti ganti yang lain. Karena environment sudah tidak mendukung,” jelas Susi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri saat ini masih terus memproses penggantian alat tangkap cantrang kepada nelayan-nelayan yang selama ini menggunakan alat tangkap tersebut. Dengan langkah KKP yang juga melarang kapal-kapal asing untuk mencuri ikan di Indonesia, moratorium kapal, Susi yakin nelayan Indonesia akan lebih banyak mendapatkan hasil tangkapan yang lebih baik, lebih banyak, dan ekosistem laut berkelanjutan juga dapat dijaga.

“Sekarang ikan kaleng kan sudah tidak ada kan bukan karena policy. Karena memang ikannya sudah tidak ada. Kalau ikan cantrang atau ikan rucah diambilin terus (untuk kebutuhan pabrik Surimi), bagaimana? Ikan rucah dalam ekosistem kan makanan ikan besar. Kita tidak bisa mengorbankan sustainability ribuan hektar laut, masa depan jutaan nelayan, untuk 15 industri (surimi),” tutur Susi.

“Sekarang kan nelayannya sudah terasa, begitu dapat ikan cakalang, dia enggak mau lagi nangkap ikan murah, ikan rucah. Kan kapal itu nangkap ikan lagi toh nantinya. Itu duitnya ke mana? Negara lagi. So, it’s changing,” pungkasnya. (mb/detik)

Related posts