RI Tak Sendirian, Ritel di Dunia Memang Lagi Amburadul

Metrobatam, Jakarta – Industri ritel di Indonesia sedang berguguran. Mulai dari tutupnya gerai 7-Eleven, dua gerai Matahari Department Store, Ramayana, Lotus Department Store hingga rencana penutupan gerai Debenhams.

Menanggapi hal tersebut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong menjelaskan industri ritel di dunia sedang jungkir balik atau mengalami running upside down.

Bacaan Lainnya

“Seperti di Eropa, AS dan seluruh dunia ritel sedang amburadul dan sedang mengalami proses pergeseran,” kata Thomas dalam paparan realisasi investasi di kantor BKPM, Jakarta, Senin (30/10).

Mengutip Reuters, Wal-Mart menutup Walmart Express di 269 lokasi di Amerika. Ini karena biaya operasional yang terlalu tinggi namun tidak sesuai dengan pendapatan.

Dia menjelaskan, banyaknya toko ritel yang tutup di Indonesia terjadi karena adanya pergeseran belanja dari offline ke online. Menurut dia di Indonesia itu belanja online masih terbilang kecil dibandingkan transaksi secara langsung.

“Masyarakat belanjanya mulai bergeser dari offline ke online. Mungkin bisa dipakai istilah kecil tapi pedas ya, sektornya kecil tapi dampaknya bisa berkali lipat,” imbuh dia.

Thomas menyebutkan, dengan fenomena belanja atau delivery online juga turut mempengaruhi. Dia mencontohkan misalnya Grab, Uber, Gojek atau belanja online bisa pengaruh ke kebiasaan belanja. Thomas menjelaskan ia percaya orang jadi malas untuk pergi jauh, karena panas, macet untuk sekedar pergi ke Glodok atau Mangga Dua beli peralatan komputer.

“Sekarang tinggal pencet-pencet saja dan bayar, selesai diantar ke rumah, meskipun masih kecil tapi dampak transformatif ke pola konsumtif belanja bisa dahsyat,” ujar dia.

Menurut Thomas, pergeseran pola konsumsi masyarakat kini tidak lagi ke barang atau benda, namun lebih ke pengalaman seperti berpetualang atau liburan. “Sekarang yang bikin bergengsi itu selfie, wefie di tempat wisata, bukan lagi barang,” jelas dia. (mb/detik)

Pos terkait