Metrobatam, Jakarta – Densus 88 Antitetor Polri menggeledah Kampus Universitas Riau (Unri) Fakultas Fisipol, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau, pada Sabtu 2 Juni 2018. Penggeledahan dilakukan di Gedung Gelanggang Fisipol sejak pukul 14.30 WIB. Sejumlah orang diamankan, satu orang berinisial MMZ yang merupakan alumni kampus tersebut ditetapkan sebagai tersangka.
Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai ditangkapnya terduga teroris di lingkungan kampus merupakan tamparan keras bagi sistem pendidikan di Indonesia. Kampus yang seharusnya menghasilkan orang-orang berintelektual, menurut Bamsoet malah menjadi sarang teroris.
“Ditangkapnya terduga teroris di lingkungan kampus merupakan tamparan keras bagi sistem pendidikan kita. Kampus seharusnya menjadi sarang intelektual, di mana tindak tanduknya untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan justru malah menjadi sarang teroris yang mengancam keselamatan, keamanan, serta persatuan dan kesatuan,” ujar Bamsoet kepada Okezone, Senin (4/6).
Bamsoet mendesak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk selalu menggelar kegiatan-kegiatan yang mampu menggairahkan keintelektualn para mahasiswa. Kegiatan-kegiatan ini juga harus bisa menangkal para mahasiswa dari bahaya radikalisme.
“para rektor perguruan tinggi senantiasa membuat berbagai kegiatan yang mampu menggairahkan keintelektualan para mahasiswa. Semangat tinggi yang dimiliki para anak-anak kita yang sedang mengenyam pendidikan di kampus harus disalurkan untuk kegiatan positif,” jelas Bamsoet.
Menurut mantan Ketua Komisi III ini, penangkapan ini sekaligus memperkuat penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menunjukan tingginya paparan radikalisme di kalangan mahasiswa dan sejumlah kampus. Bamsoet menjelaskan berdasarkan penelitian salah satu lembaga riset terhadap 1.800 responden di 25 universitas di Indonesia pada Oktober 2017, disebutkan 23,5 persen responden menyetujui gerakan Negara Islam Irak dan Suriah.
“Selain itu, sebanyak 23,4 persen menyetujui kesiapan untuk berjihad mendirikan khilafah,” tutur Bamsoet.
Bamsoet menjelaskan tindakan dengan pendekatan keamanan (security treatment) tak selamanya bisa menjadi jawaban dalam membersihkan kampus dari gerakan radikal dan ekstrim. Menurutnya, pendekatan soft treatment melalui pendidikan semangat kebangsaan terhadap kaum muda yang masih mengalami cognitive opening (pembukaan koognitif) terhadap berbagai gagasan baru, harus kembali ditingkatkan.
Politikus Partai Golkar itu meminta kaum muda yang sedang menempuh pendidikan di berbagai jalur, mulai dari menengah sampai ke pendidikan tinggi, untuk membuka wawasan secara cermat dan tepat. Sikap kritis, lanjut Bamsoet juga harus selalu dikedepankan dalam menyeleksi berbagai pemikiran baru dan ajaran-ajaran yang baru.
“Jangan mau disusupi oleh orang-orang tak bertanggungjawab yang hanya ingin memperalat untuk kepentingan sesaat mereka,” pungkasnya. (mb/okezone)














