Gerindra vs NasDem Saling Ungkit Luka Masa Lalu

Metrobatam, Jakarta – Gerindra dan NasDem saling melempar serangan mengungkit masa lalu. Awal mulanya karena serangan aktivis Ratna Sarumpaet kepada Ketum MUI KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi). Seperti apa ceritanya?

Kegelisahan Ratna itu dia tuliskan lewat akun Twitternya @RatnaSpaet. Ada tiga cuitan tentang Jokowi dan Ma’ruf Amin yang dia unggah. Salah satunya soal ‘Menolak Lupa Fatwa MUI’ yang juga ramai dibahas netizen. NasDem yang merupakan parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf menyarankan Ratna juga ‘menolak lupa’ terhadap sejarah Prabowo Subianto selama berdinas di satuan TNI.

Bacaan Lainnya

“Kalau melawan lupa, baiknya Ibu Ratna ngecek melawan lupa versi Pak Prabowo. Semua peristiwa-peristiwa militer dulu yang menggunakan kekuatan pada saat jadi perwira tinggi militer itu apa saja riwayatnya,” ujar Sekjen NasDem Johnny G Plate kepada detikcom, Sabtu (11/8).

NasDem mengatakan tentu ada sejumlah prestasi yang ditorehkan Prabowo ketika menjadi perwira militer. Namun, NasDem meminta Ratna tidak tutup mata terhadap peristiwa sejarah yang melibatkan Prabowo hingga disidang melalui Dewan Kehormatan Perwira (DKP).

“Pasti ada kehebatan-kehebatan ya kan. Termasuk juga mengecek proses sidang Dewan Kehormatan Perwira. Kan ada tuh di YouTube. Tanyakan juga kenapa tidak dilakukan mahmakah militer yang di Puspom. Tanya juga saksi-saksi yang dulu terlibat di DKP. Ada Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), juga di situ kan, ada Pak Agum Gumelar, Pak Fachrul Razi yang dulu jenderal-jenderal yang masuk DKP,” ujar Johnny.

Gerindra keberatan soal serangan yang dialamatkan NasDem kepada ketumnya. Gerindra mengungkit kasus korupsi yang menjerat eks Sekjen NasDem Patrice Rio Capella.

“Daripada ngurusin Pak Prabowo, kita tahu lah mantan Sekjen NasDem itu masuk penjara karena korupsi. Itu rekam jejak NasDem. Nggak relevan kalau politik itu fitnah, jelas Pak Prabowo tidak terlibat apa-apa. Dituduh dengan keji terus,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade kepada detikcom, Minggu (12/8).

Gerindra meminta NasDem tak memutar ‘kaset rusak’ dengan menyinggung sejarah sang ketum selama berdinas di satuan TNI. Dia pun menyarankan Johnny bertanya kepada Menko Polhukam Wiranto yang pada 1998 menjabat sebagai Panglima ABRI.

Saling serang NasDem dan Gerindra soal masa lalu, khususnya masa lalu Prabowo, bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya saat menanggapi pernyataan Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat (PD) Ferdinand Hutahaean yang menyayangkan pernyataan ‘berani jika diajak berantem’ dari Jokowi kepada relawannya, NasDem mengungkit masa lalu Prabowo.

Gerindra meminta NasDem tidak asal bicara. Sebab, NasDem–yang diwakili Johnny–salah bicara soal Dewan Kehormatan Militer. Saat itu, Prabowo dipecat melalui surat rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira. (mb/detik)

Pos terkait