Prabowo Utus Ketua Gerindra Jabar Lobi Ustadz Abdul Somad, PKS Irit Bicara

Metrobatam, Jakarta – Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto mengutus Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Mulyadi untuk berkomunikasi dengan Ustadz Abdul Somad alias UAS.

Lobi untuk bertemu ini terkait hasil ijtima ulama yang merekomendasikan Somad dan Salim Segaf Aljufri sebagai calon pendamping Prabowo di Pilpres 2019. Pertemuan Prabowo dengan ulama asal Riau itu belum terlaksana karena kesibukannya berceramah.

Read More

Mulyadi mengklaim Prabowo memerintahkannya langsung bertemu dengan UAS. “Saya diutus langsung, usai pertemuan di Kertanegara Minggu (29/7),” kata Mulyadi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/8).

Kata Mulyadi, dia telah bertemu dengan UAS, Senin (30/7) di Bandara Soekarno Hatta. Dalam pertemuan itu, UAS menolak untuk mendampingi Prabowo sebagai Cawapres.

“Tapi kami terus berkomunikasi dan meminta UAS untuk bertemu dengan Prabowo. Waktunya belum ditentukan karena padatnya jadwal UAS. Posisi kami saat ini menunggu UAS untuk bertemu Prabowo,” katanya.

Meski menolak, kata Mulyadi, UAS berjanji mendukung dan mendoakan Prabowo menjadi Presiden.

Mulyadi berharap UAS dapat bertukar pikiran dan gagasan dengan Prabowo. Usai Ijtima Ulama, Prabowo belum pernah bertemu dengan UAS. “Kalau dengan pak Salim kan pak Prabowo sering bertemu,” katanya.

Mulyadi menambahkan sejumlah ulama juga telah menghubunginya agar segera merealisasikan pertemuan Prabowo dengan UAS.

“Semalam sejumlah ulama bertemu di Az Zikra Sentul, dan Arifin Ilham menelepon saya dan berpesan agar memperjuangkan UAS,” katanya.

Prabowo menurut Mulyadi sangat menghormati hasil ijtima, dan dia akan mempertimbangkan rekomendasi para ulama. Saat ini ada tiga nama yang berpotensi untuk mendampingi Prabowo, yakni UAS, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Salim Segaf Aljufri.

Mulyadi mengatakan, UAS memiliki kompetensi sebagai calon wakil presiden. “Prabowo ini saya ibaratkan pilot yang akan membawa pesawat terbang berpenumpang 250 juta, maka dibutuhkan seorang copilot yang mampu mendorong Prabowo,” ujarnya.

PKS Irit Bicara

Ketua Umum Partai Gerindra, PKS, dan PAN menggelar pertemuan di kediaman konglomerat Maher Algadri di kawasan Prapanca, Jakarta Selatan, Selasa (31/7) malam. Selain ketua umum, sekjen serta petinggi-petinggi ketiga partai itu pun turut hadir.

Kala itu, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengatakan tiga partai sepakat membuka pintu kepada Demokrat jika ingin berkoalisi. Muzani mengklaim tiga partai tersebut akan menyambut baik dan terbuka.

Pertemuan tersebut lalu berlanjut pada Rabu (1/8) malam. Kali ini, hanya sekjen yang berkumpul untuk duduk bersama. Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan ikut dalam pertemuan itu. Pertemuan perdana empat sekjen itu dilaksanakan di suatu rumah milik kader Gerindra di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani yang tiba pertama di lokasi sekitar pukul 20.15 WIB. Tak lama berselang, tiba Sekjen PKS Mustafa Kamal dan Sekjen PAN Eddy Soeparno. Hinca Panjaitan datang paling buncit.

Sebelum pertemuan, Ahmad Muzani mengatakan mereka bakal membahas hal-hal teknis terkait bangunan koalisi keempat partai, termasuk dalam rangka menghadapi Pilpres 2019.

“Platform visi dan misi dari capres cawapres, bagaimana bentuk struktur bangunannya,” kata Muzani sebelum pertemuan.

Pertemuan berlangsung tertutup. Sekitar dua jam kemudian atau pukul 22.00 WIB, Sekjen PKS Mustafa Kamal meninggalkan lokasi pertemuan paling pertama. Dia juga sudah berada di dalam mobil ketika keluar dari tempat pertemuan. Jendela mobil yang membawanya pun tertutup rapat. Seolah tidak ingin meladeni wartawan yang dia tahu sudah menunggu di luar pagar.

Melihat gelagat tersebut, para wartawan pun mencegat mobil tersebut sehingga terhambat tak bisa langsung dipacu sang sopir meninggalkan lokasi.

Para wartawan memanggil-panggil Mustafa dari balik kaca jendela. Namun yang dipanggil bergeming di dalamnya, jendela mobil pun terus tertutup rapat.

Beberapa saat kemudian, karena mobil tak jua bergerak, Mustafa menyerah namun hanya sudi membuka kaca dan memberi sedikit pernyataan.

“Pokoknya PKS memegang teguh menjunjung tinggi rekomendasi ijtima ulama. Sudah itu saja,” ucap Mustafa singkat.

Mustafa enggan membeberkan apa yang dibicarakan saat duduk bersama dengan tiga sekjen partai lainnya. Ketika diungkit kembali soal cawapres yang bakal ditawarkan PKS kepada Prabowo, Mustafa menjawab dengan pernyataan dengan makna yang tergolong sama, yakni memprioritaskan rekomendasi ijtima ulama.

“Kita bersama umat, bersama ulama, bersama rakyat Indonesia untuk bangsa Indonesia yang lebih baik,” katanya.

Kepergian Mustafa tidak diikuti tiga sekjen lainnya dalam waktu yang berdekatan. Sekitar 20-30 menit kemudian, barulah Sekjan PAN Eddy Soeparno nampak ingin meninggalkan lokasi.

Berbeda dengan Mustafa, Eddy tak langsung menaiki mobilnya guna meninggalkan lokasi. Begitu pula dengan Hinca dan Muzani. Mereka sudi menanggapi pertanyaan wartawan yang ingin tahu isi dan hasil diskusi keempat sekjen. Mereka juga memberikan jawaban yang panjang lebar. Tidak seperti Mustafa yang hanya berkenan memberikan jawaban pendek.

Sebetulnya, gelagat Mustafa yang tak terbuka sudah tampak sebelum pertemuan berlangsung. Setibanya di lokasi, Mustafa tidak turun dari mobil meski wartawan telah mencegat di depan pagar. Bahkan, Mustafa tidak membuka kaca jendela mobilnya.

Berbeda dengan Muzani, yang tiba terlebih dahulu. Begitu pula Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan yang tiba paling terakhir. Keduanya rela turun dari mobil di luar pagar rumah dan mau disodorkan alat perekam milik wartawan.

Sekjen PAN Eddy, sebetulnya tidak memberikan pernyataan sebelum pertemuan berlangsung seperti yang dilakukan Muzani dan Hinca. Namun, dia tetap menyapa ramah para wartawan yang telah lama menunggu kedatangan keempat sekjen di depan pagar lokasi pertemuan. “Nanti ya kalau sudah selesai,” kata pria berkacamata tersebut.

Di akhir pertemuan, Muzani mengatakan empat sekjen sepakat membentuk dua tim kecil.

“Kami sepakat sepakat [kirim] tiga orang. Tiga untuk tim 1 dan tiga untuk tim 2. Jadi masing-masing 6 orang perwakilan,” ungkap Muzani.

Kedua tim itu akan bertugas menyusun visi dan misi capres-cawapres yang akan diusung bersana. Selain itu, juga membahas suatu kerangka pemerintahan jika mereka memenangkan Pilpres 2019 mendatang.

Hal senada diutarakan Hinca. Lebih lanjut, ia mengatakan pertemuan tidak membahas nama-nama untuk calon pendamping Prabowo. Dia menegaskan dirinya juga tidak datang untuk menawarkan satu nama untuk dijadikan cawapres. “Kami bicara teknis dan program. Bukan orang,” ucap Hinca.

Sementara itu, Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan hal berbeda. Mulanya, dia mengamini topik diskusi dalam pertemuan membicarakan hal-hal teknis seperti yang diutarakan Muzani dan Hinca. Namun, dia membantah telah ada kesepakatan dari pertemuan tadi.

“Tidak ada hal hal yang sudah dalam bentuk kesepakatan,” ucap Eddy. (mb/cnn indonesia)

Related posts