Yusril: Koalisi Keummatan Fatamorgana, Prabowo Fitnah Saya

Metrobatam, Jakarta – Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyatakan Koalisi Keummatan hanyalah fatamorgana. Koalisi Keummatan berisi parpol kubu kontra-petahana dan kelompok pro-Habib Rizieq Syihab, yang kemudian menghasilkan Ijtimak Ulama mendukung pencapresan Prabowo Subianto.

“Koalisi Keummatan hanya fatamorgana yang tidak pernah ada di alam nyata. Partai Bulan Bintang tidak pernah terlibat di sana, bahkan kita komplain nama kita dibawa-bawa tanpa pernah diajak bicara,” kata Yusril dalam keterangan yang diunggah akun Instagram @yusrilihzamhd, seperti diakses detikcom, Selasa (14/8).

Read More

Dimintai konfirmasi terpisah oleh detikcom, Yusril menjelaskan akun Instagram itu bukanlah punya dia, tapi konten tulisannya memang merupakan tulisan yang dia tujukan untuk internal PBB. Yusril menyatakan konten tulisan itu memanglah tulisan dia yang diunggah pihak lain di Instagram yang mengatasnamakan dirinya. Yusril sendiri mengaku tak punya akun Instagram. Meski awalnya ditujukan untuk internal PBB, Yusril mengizinkan tulisannya dikutip.

Yusril menyampaikan, dalam tulisan itu, fungsionaris DPP PBB menghubungi Partai Gerindra dan PAN sebagai penggawa Koalisi Keummatan, yang digagas Rizieq. Namun tak ada respons sama sekali dari Gerindra ataupun PAN. Gerindra, PAN, dan PKS dinilainya tak menunjukkan simpati kepada PBB. Seolah-olah, mereka menginginkan PBB mati. Yusril menyebut simpati malah datang dari partai sekuler.

Yusril kemudian menyebut pernyataan Prabowo Subianto sebagai fitnah. Prabowo mengatakan kesulitan menghubungi Yusril karena Yusril selalu berada di luar negeri. Namun dia menyayangkan aktivis PBB tak membelanya saat fitnah itu meluncur.

“Apalagi Ketua Umum Gerindra secara terbuka memfitnah saya dengan mengatakan bahwa beliau memang mengaku terus terang tidak pernah berbicara dengan Ketua Umum PBB karena ‘tiap kali dihubungi beliau selalu berada di luar negeri’. Mana ada aktivis PBB yang membela ketua umumnya yang diperlakukan seperti itu?” kata Yusril.

Pernyataan Prabowo yang dimaksud Yusril itu diucapkan saat Ijtimak Ulama di Hotel Peninsula, Jakarta Barat. Singkat cerita, ternyata cawapres rekomendasi Ijtimak Ulama tidak dipilih oleh Prabowo. Dua cawapres rekomendasi Ijtimak Ulama adalah Salim Segaf Aljufri dari PKS dan Ustaz Abdul Somad. Namun Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai cawapresnya.

“Di kalangan ulama peserta Ijtimak di Hotel Peninsula, sikap Prabowo yang tidak memilih UAS (Ustaz Abdul Somad) atau USA (Ustaz Salim Segaf) juga masalah. Sekarang, siapa yang tidak taat kepada ulama?” kata Yusril.

Yusril lantas menyinggung Jokowi yang justru menggandeng Ketua Umum MUI sekaligus Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin.

“Konon sekarang akan diadakan Ijtimak Ulama Tahap II untuk memutuskan apakah akan membenarkan atau menolak keputusan Prabowo yang memilih Sandiaga Uno, seorang pedagang, bukannya ulama, sementara Jokowi malah memilih ulama yang juga Ketua MUI dan sekaligus Rais Aam PBNU, walau Jokowi tidak pernah mendapat amanat demikian dari para ulama yang berijtimak,” tutur Yusril.

Dia bertanya-tanya, bagaimana keputusan Ijtimak Ulama Tahap II nantinya, apakah tetap mendukung Prabowo atau tidak mendukung Prabowo. Soalnya Prabowo tidak mengambil cawapres hasil rekomendasi Ijtimak Ulama. Dia berharap kewibawaan ulama tetap terpelihara. Dia juga menilai keputusan Munaslub Nahdlatul Ulama (NU) perlu diperhatikan karena jumlah ulama NU sangat besar dan mengakar di hati umat Islam. PBB akan memperhatikan keputusan para ulama.

“Apakah mereka (Ijtimak Ulama II) akan menarik dukungan dari Prabowo karena tidak patuh kepada hasil Ijtimak atau Ijtimak Jilid II akan mengeluarkan keputusan baru sebagai ‘qaul jadid’, yakni mencabut ‘qaul qadim’ keputusan sebelumnya, artinya pedagang pun boleh dipilih jadi wapres, tidak perlu ulama, seperti UAS dan USA. Kalau ini terjadi, maka di mana muka para ulama itu akan ditempatkan?” kata Yusril.

Yusril tak ingin PBB dan dirinya diseret ke salah satu kubu yang bersaing di Pilpres 2019. Soalnya, PBB belum memutuskan sikap dukungan di Pilpres 2019. Dia tidak ingin pihaknya dipersepsikan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin hanya karena tidak mendukung Prabowo-Sandiaga dan tidak ingin pula diartikan sebagai pendukung Prabowo-Sandiaga hanya karena tak mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Tak Bermaksud Fitnah Yusril

Sementara Partai Gerindra meluruskan pernyataan Yusril yang merasa difitnah karena Prabowo menyebut tiap kali ada upaya komunikasi, Yusril diklaim sedang di luar negeri.

“Saya rasa Pak Prabowo nggak ada bermaksud memfitnah Yusril,” ujar anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade, Selasa (14/8).

Andre mengatakan, Gerindra ingin PBB ikut terlibat dalam koalisi yang mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Saat ini, Prabowo-Sandi diusung Gerindra, Partai Demokrat, PAN, dan PKS serta didukung Partai Berkarya.

“Terus terang bukan nggak diajak, kita pasti akan mengajak PBB tapi memang skala prioritas waktu itu adalah partai-partai yang mempunyai kursi di DPR, karena itu syarat mencalonkan Pak Prabowo untuk memenuhi presidential threshold,” sebut Andre.

Andre juga menanggapi pernyataan Yusril kalau Koalisi Keummatan yang digagas Habib Rizieq Syihab hanya fatamorgana. Dengan susunan partai pengusung Prabowo-Sandi saat ini, Andre mengatakan, Koalisi Keummatan secara tidak langsung telah terbentuk. PBB, kata dia, pasti akan diajak terlibat.

“Miskomunikasi Pak Yusril aja. Kita pasti akan ngajak,” sebut Andre. (mb/cnn indonesia)

Related posts