SMRC Prediksi Jokowi Ikuti Jejak SBY Jadi Presiden 2 Periode

Metrobatam, Jakarta – Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai Joko Widodo (Jokowi) berpeluang terpilih kembali menjadi Presiden dalam Pilpres 2019.

Hasil survei SMRC teranyar menunjukkan tren perolehan suara responden untuk Jokowi lebih unggul dari pesaingnya, Prabowo Subianto.

Read More

Survei tersebut dilakukan terhadap 1220 responden yang tersebar di berbagai wilayah pada 7-14 September 2018. Hasilnya menunjukkan angka perolehan Jokowi sebesar 60,2 persen, sementara Prabowo sekitar 28,7 persen.

Lihat juga: Buntut Hoaks Ratna, Tim Jokowi Klaim Pendukung Prabowo Goyah

Survei tersebut dilakukan dengan mewawancarai responden. Margin eror 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasil survei tersebut berbanding lurus dengan survei pada Mei 2018. Ketika itu dukungan responden terhadap Jokowi tercatat sekitar 57 persen sedangkan Prabowo sekitar 33 persen.

Menurut Djayadi, tren perolehan suara ini penting sebagai indikasi hasil akhir pada hari pencoblosan. “Dari pengalaman sebelumnya, calon yang suara dikungannya unggul akan sulit dikalahkan,” kata Djayadi di kantor SMRC, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (7/10).

Djayadi menyoroti situasi politik saat ini hampir serupa ketika jelang pemilu 2009. Saat itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merupakan petahana juga memiliki perolehan suara yang selalu lebih unggul dari lawan-lawan politiknya.

Sebagai petahana, SBY kala kembali terpilih sebagai presiden 2009-2014. Bedanya, perolehan suara responden Jokowi saat ini lebih tinggi dibandingkan perolehan suara responden untuk SBY saat itu.

Mengacu pada data jelang pemilu 2009 yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia, perolehan SBY pada survei terakhir yang dilakukan beberapa bulan jelang pemilihan yakni sebesar 48,6 persen. Sedangkan saat ini, Jokowi memperoleh sekitar 60,2 persen.

“Artinya sebagai petahana posisinya Jokowi lebih baik daripada SBY. Kalau tidak ada perubahan, maka logikanya Jokowi bisa memenangkan pertarungan,” kata dia.

Namun demikian, masih ada beberapa bulan hingga pada pemilu 2019. Angka perolehan Jokowi ini masih bisa berubah, tergantung pada isu politik yang bergulir nantinya. Misalnya terkait isu ekonomi.

Menurut dia, isu ekonomi merupakan salah satu isu fundamental yang juga bisa mempengaruhi persepsi publik atas petahana. Oleh karena itu, jika langkah-langkah atau kebijakan yang diambil jokowi kurang tepat, maka mempengaruhi hasil pada pemilu 2019 nanti.

“Apabila inflasi meningkat maka persepsi ekonomi negatif. Jika inflasi menurun persepsi ekonomi positif,” kata dia.

Elektabilitas Jokowi sejauh ini masih unggul dari Prabowo berdasar sejumlah lembaga survei. Survei LSI Denny JA, misalnya, menunjukkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf mencapai 52,2 persen.

Dalam survei yang digelar 12 Agustus-19 Agustus 2018 itu, Prabowo-Sandiaga hanya mendapatkan 29,5 persen. Sementara itu, 18,3 persen responden masih merahasiakan pilihannya.

Hoaks Ratna Sulitkan Prabowo

Survei SMRC ini juga menilai, kubu Prabowo Subianto menjadi pihak paling terkena dampak negatif atas kebohongan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang menimpanya.

Prabowo dinilai akan kesulitan mendulang suara dari kalangan masyarakat yang belum menentukan pilihan atau undecided voters dan pemilih yang belum ajek mendukung Joko Widodo (Jokowi) atau swing voters.

“Citranya menjadi nengatif. Ini mempersulit Prabowo meraih suara dari mereka yang belum menentukan pilihan,” ujarnya.

Menurut dia selama ini Prabowo dicitrakan sebagai pemimpin yang tegas dan memahami berbagai masalah, khususnya terkait intelijen dan keamanan negara. Prabowo yang termakan dusta Ratna dinilai akan membuat publik, khususnya undecided voters dan swing voters, berpikir ulang untuk memilih Prabowo.

“Selama ini Prabowo dikesankan sebagai pemimpin yang kuat, yang paham betul dengan masalah, mengerti isu-isu intelijen dan keamanan karena dia dari militer. Nah, dengan kasus Ratna ini menimbulkan citra negatif,” kata dia.

SMRC: Hoaks Ratna Sulitkan Prabowo Gandeng ‘Undecided Voters’Kebohongan Ratna Sarumpaet dinilai menyulitkan Prabowo menggandeng undecided voters. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Namun, kata Djayadi, hal ini tidak akan mempengaruhi perolehan suara Prabowo dari simpatisan militannya. Kasus kebohongan Ratna justru akan lebih menguatkan mereka memilih Prabowo, bahkan membelanya.

“Isu Ratna tidak akan mengakibatkan pemilih Prabowo pergi, malah makin kuat membela,” kata dia.

Dalam beberapa bulan ke depan, menurut Djayadi, Prabowo harus mampu memainkan isu-isu yang menjadi kelemahan Jokowi. Misalnya, isu mengenai naiknya nilai tukar dolar yang saat ini tengah menjadi sorotan.

“Langkahnya, memainkan isu lain, seperti isu ekonomi dan isu-isu lain yang bisa menutupi kasus itu,” kata dia.

Di sisi lain, kasus kebohongan Ratna juga belum tentu menambah perolehan elektoral Jokowi. Sebab undecided voters dan swing voters masih akan terus menilai dalam waktu yang tersisa jelang pemilihan.

“Ya isu hoaks Ratna juga belum tentu menambah elektoral suara Jokowi, belum tentu. Karena tidak pasti pindah dari Prabowo ke Jokowi,” kata dia. (mb/cnn indonesia)

Related posts