Soal Ugal-ugalan, Tim Jokowi Ungkit Prabowo Bela Hoaks Ratna

Metrobatam, Jakarta – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto menganggap santai tudingan Prabowo yang mengatakan pemerintahan Jokowi ugal-ugalan mengelola negara.

Menurut dia, Jokowi selalu bekerja untuk masyarakat dan bangsa ketimbang Prabowo yang mudah percaya pada kabar bohong Ratna Sarumpaet.

Read More

“Kita bisa lihat terhadap pidato Pak Prabowo lah, jika polisi tak bertindak cepat terhadap kasus Ratna, katanya bisa terjadi pertumpahan darah, karena tuduhannya sangat keji, pelanggaran HAM, seorang ibu disiksa, eh ternyata itu hoaks,” kata Hasto di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Selasa (16/10) malam.

Sekjen PDIP itu justru menuding balik bahwa Prabowo-lah yang memiliki karakter pemimpin ugal-ugalan dalam bersikap. Ia menyebut Prabowo tak melakukan klarifikasi terlebih dulu terkait kasus Ratna dan langsung mempercayai kabar hoaks tersebut.

Sikap Prabowo yang percaya hoaks itu, kata Hasto, menunjukkan bahwa kepemimpinan mantan Danjen Kopassus itu patut dipertanyakan.

“Ya akhirnya masyarakat menilai seperti itu, pemimpin yang menyampaikan kepada publik harus dilihat implikasinya, dampaknya, kulturnya,” kata Hasto.

Hasto pun mempertanyakan motif Prabowo menyebut pemerintah Jokowi ugal-ugalan dalam mengelola negara. Selama empat tahun menjadi Presiden, kata dia, Jokowi mampu memperlihatkan kelasnya sebagai pemimpin terbaik dunia.

Hasto menganggap gelaran internasional sekelas Asian Games, Asian Para Games dan IMF-World Bank Forum menjadi salah satu indikator keberhasilan Jokowi di mata dunia. Tak hanya itu, Jokowi berhasil ‘merebut’ Blok Rokan dan Freeport Indonesia ke pangkuan Ibu Pertiwi sebagai tanda kedaulatan di bidang energi.

“Jadi, jika mereka anggap [kerja Jokowi] itu negatif, mereka yang enggak mampu untuk beradu prestasi dan gagasan,” kata Hasto.

Karakter Negatif

Di tempat yang sama, Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding menilai pernyataan Prabowo menunjukkan karakter negatif sebagai pemimpin.

Kata Karding, hal itu nampak dari berbagai pilihan kata (diksi) negatif yang seringkali digunakan Prabowo untuk menyerang pemerintahan saat ini.

“Itu justru menunjukkan bahwa Pak Prabowo selama ini sering menularkan pilihan-pilihan kata negatif, diksi-diksi negatif. Saya kira ini menunjukkan karakter beliau sebagai pemimpin,” ucap Karding.

Karding juga membandingkan gaya kepemimpinan Jokowi dengan zaman Soeharto di era Orde Baru yang otoriter. Ia menilai Jokowi mengedepankan peran partisipatif dalam berdialog dalam memutuskan kebijakan selama ini.

“Pak Jokowi mengembangkan kepemimpinan partisipatif, prinsipnya dia tidak boleh banyak pintu atau banyak kebijakan, misalnya BBM dikunci di Pak Jokowi,” ujar Karding.

Sebelumnya, Prabowo mengungkapkan bahwa mimpi mengembalikan kejayaan Indonesia di masa silam menjadi luntur karena negara dikelola secara ugal-ugalan dalam empat tahun terakhir.

Prabowo mengatakan hal tersebut sebagai penjelasan atas slogan Make Indonesia Great Again yang ia perkenalkan beberapa waktu lalu. “Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara,” tutur Prabowo melalui akun Facebook resminya, Selasa (mb/cnn indonesia)

Related posts