Mengenal Varian Delta Asal India

(Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (tengah) berbincang dengan Kepala Puskesmas Jati Ahmad Muhammad (kedua kiri) saat meninjau penanganan COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (5/6/2021). Dalam kunjungan itu, Menkes meninjau penanganan COVID-19 di sejumlah rumah sakit dan puskesmas serta memberikan bantuan berupa 30 ventilator, 50 ribu swab Antigen dan 50 ribu vaksin serta mengirim sebanyak 38 tenaga kesehatan terdiri perawat dan dokter dari IDI. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/rwa.)

METROBATAM.COM. JAKARTA – Angka kenaikan kasus positif COVID-19 itu bertambah dari hari ke hari. Kenaikan kasus positif pasca libur lebaran ini sesuai yang diramalkan sejumlah ahli. Berdasar data Satuan Tugas COVID-19, jumlah kenaikan kasus tiga minggu pasca lebaran mencapai 53,4 persen.

Sejumlah daerah seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta, punya andil menyumbang lonjakan itu.

Bacaan Lainnya

Lonjakan kasus di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, diduga disebabkan adanya varian baru virus corona dari India atau varian B.1.617. Varian B.1.617 itu, menurut Menteri Kesehatan Budi G Sadikin mendominasi kasus di Kabupaten Kudus (Jawa Tengah), Bangkalan (Jawa Timur), dan DKI Jakarta.

“Penularan dari varian mutasi ganda India itu terjadi lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan,” kata Menteri Budi dalam keterangan pers virtual yang ditayangkab YouTube Sekretariat Presiden, Senin (14/6/2021).

Varian India ini, kata Budi, dibawa oleh para pekerja migran yang kembali ke tanah air melalui pelabuhan-pelabuhan laut. Selain dari pekerja migran, varian ini masuk lewat barang-barang yang diangkut kapal, termasuk dari India.

Pengawasan di pelabuhan laut ini, diakui Budi agak sulit diawasi karena banyaknya kapal pengangkut barang yang masuk. Ini berbeda dengan pengawasan di pelabuhan udara yang pengawasannya sudah lumayan ketat.

Total jumlah kasus positif COVID-19 dari Maret 2020 hingga Senin (14/6/2021) ini mencapai 1.919.547 kasus. Sedangkan pasien sembuh mencapai 1.751.234 orang, dan jumlah yang meninggal sebanyak 53.116 orang.

Mengenal Varian India
Varian yang nama resminya B.1.617 ini pertama kali dideteksi di India pada Oktober 2020. Menurut GISAID global database, varian ini juga telah ditemukan di setidaknya 21 negara.

Organanisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan varian dari India ini sebagai “varian berbahaya”. Artinya, ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa varian ini menyebar dengan cepat antar manusia, dan menyebabkan penyakit yang lebih parah, atau mungkin lebih tahan terhadap pengobatan dan vaksin.

Namun, menurut Maria Van Kerkhove, pimpinan teknikal COVID-19 di WHO, saat ini masih dibutuhkan informasi lebih lanjut tentang penyebaran virus varian baru ini secara global.

Ada tiga sub-varian penting dari B.1.617. Salah satu yang paling mengkhawatirkan disebut B.1.617.2 atau varian Delta. Varian ini pertama kali terdeteksi di India pada Desember 2020.

Namun, penyebaran varian Delta belum banyak ditemukan hingga awal Maret 2021, ketika varian tersebut menjadi dominan.

Subvarian lain adalah B.1.617.1 atau varian Kappa juga pertama kali terdeteksi di India pada Desember 2020. Varian Kappa telah terdeteksi di banyak negara lain, tetapi hanya menyumbang sebagian kecil kasus.

Pada Kamis (3/6/2021), WHO menyebut, varian Delta telah teridentifikasi di 62 negara per 1 Juni 2021. Karenanya, warga dunia pun diminta untuk waspada dan tidak mengendurkan protokol kesehatan lantaran varian Delta adalah Virus Corona yang menjadi variant of concern (VOC) dari WHO atau berbahaya dengan tingkat penularan yang lebih cepat.

Menurut Profesor Kedokteran di Rutgers New Jersey Medical School dan Profesor Biostatistik dan Epidemiologi di Rutgers School of Publik Health, Stanley Weiss MD, varian virus Corona seperti varian Delta dapat dengan cepat mengambil alih dan menjadi strain utama yang beredar di satu wilayah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa varian virus Corona India tersebut memiliki keunggulan dalam hal bertahan hidup.

Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH menyebut varian Delta dapat menimbulkan gejala yang lebih parah. Di antaranya meningkatkan risiko terjadinya hilang pendengaran, nyeri ulu hati, dan mual.

Pasien yang tertular virus Corona varian Delta, kata Ari, harus dirawat di rumah sakit dan memerlukan suplementasi oksigen.

Kemampuan varian Delta ini, kata Ari, menginfeksi lebih mudah dan cepat. “Jika kita berada dalam satu ruangan dengan orang dengan varian Delta ini, dan orang tersebut bersin atau berbicara, virus akan lebih cepat berpindah,” katanya.

Mengingat kondisi itu, Menteri Kesehatan Budi G Sadikin, meminta masyarakat tak lengah dalam menghadapi situasi ini. Masyarakat diminta tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus mulai dari memakai masker, rajin mencuci tangan, hingga menjaga jarak. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tak terlampau euforia karena sudah divaksinasi. (Ip)

Pos terkait