Pembangkit Listrik Tenaga Surya Simbol Komitmen Batam Menuju Energi Bersih dan Berkelanjutan

source picture : http://bidakara

METROBATAM.COM, BATAM – PLTS atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya milik PT PLN Batam yang berdiri kokoh di Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam ini memanfaatkan sinar matahari yang melimpah di daerah pesisir.

Pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 1 Megawatt ini menjadi simbol komitmen Batam menuju energi bersih dan berkelanjutan.

Engineer Instrumen Fasility Pelayanan Energi Batam, Muhammad Habibie mengatakan pembangkit listrik ini memasok daya untuk lebih dari 100 rumah, puskesmas, tempat ibadah, dan fasilitas umum dengan rata-rata daya 1.300 VA per rumah.

“PLTS di Tanjung Uma ini untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat Batam, menggunakan sistem On Grid dengan kapasitas 1 megawatt,” kata dia.

Bacaan Lainnya

PLTS ini dibangun sejak 2022 di lahan seluas satu hektar, dengan kuota instalasi mencapai 2.720 unit. PLN Batam berencana memperluas kapasitasnya menjadi dua hektar.

“Ke depannya, jaringan akan semakin handal. Kami terus berkomitmen mendukung energi bersih,” tambah Habibie. Seperti dilansir dari gokepri.

Keberhasilan PLTS ini didukung oleh pemeliharaan ketat tim operator, yang rutin memeriksa inverter, trafo, dan komponen penting lainnya. PLTS Tanjung Uma juga memainkan peran penting dalam mendukung komitmen PT PLN Batam dan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.

Menurut Muhammad Habibie saat ini Batam sedang menuju arah energi berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang terbarukan. Hal itu dilakukan untuk tidak merusak lingkungan serta memastikan energi tetap tersedia di masa depan.

“Kita sedang menuju energi bersih. Saat ini, energi yang relevan adalah energi matahari, dan di Batam potensi energi terbarukan paling cocok adalah tenaga surya,” jelasnya.

Dengan posisi Batam yang didominasi lautan, lanjut Habibie, memungkinkan penyerapan energi surya untuk listrik. Pembangunan PLTS di kawasan Tanjung Uma dinilai strategis karena letaknya yang dekat laut.

“Potensi di Batam besar sekali. Jika cadangan energi berlebih, kita bisa mengekspornya ke Singapura,” ujarnya.

Habibie menjelaskan, ratusan panel surya yang dipasang akan menyerap panas dan disalurkan langsung ke gardu sebagai cadangan energi untuk Batam.

“Jadi, tidak perlu baterai. Cahaya panas diserap oleh panel surya dan langsung masuk ke gardu untuk dialirkan ke rumah-rumah warga,” tambahnya.

Untuk memaksimalkan energi surya, perawatan rutin diperlukan untuk membersihkan debu dan lumut yang menempel pada panel. Energi yang sudah tertampung juga harus dikontrol, agar tidak merusak panel yang telah terpasang.

“Ada jadwal pembersihan VV modul setiap 3 bulan, tergantung kondisi visual. Jika debu sudah banyak, perlu segera dibersihkan,” ujarnya.

Ke depan, pembangunan PLTS akan terus dilakukan, termasuk rencana PLTS rooftop untuk perusahaan.

“Untuk pulau, ada PLTS komunal sebagai sumber listrik utama bagi warga, walaupun masih dalam proses. Unit bisnis PLN telah memasang PLTS rooftop untuk perusahaan industri di Batam, dengan total 14 megawatt peak. Salah satunya di industri Sat Nusa Persada, Eco Green, dan lainnya,” katanya.

“Rencana pengembangan kawasan PLTS pada 2025 menargetkan peningkatan dua kali lipat dari kapasitas saat ini, yaitu 1 megawatt,” tambahnya.

Habibie menjelaskan bahwa tantangan utama pembangunan PLTS adalah biayanya yang tinggi. Satu panel surya saja bisa menghabiskan biaya puluhan juta, ditambah lagi dengan perawatan rutin yang harus dilakukan.

“Meskipun biaya pemasangan awal cukup mahal, hasilnya sepadan dengan penghematan energi yang diperoleh. Satu modul VV bergaransi 20 tahun, dan akan diganti setiap periode tersebut,” kata dia.

Vice President of Public Relations PLN Batam, Bukti Panggabean, mengatakan PLN Batam siap beralih dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Prosesnya bertahap. Di tahun 2023, energi hijau sudah bisa diaplikasikan,” ujarnya.

PLN Batam saat ini tengah membangun PLTS. Beberapa proyek yang sudah berjalan antara lain di PT Bandara Internasional Batam (BIB), PT Karya Teknik Utama di Sagulung dan Batuampar, PT Bumi Abadi Tegarsakti.

Kemudian juga ada di perusahaan lain, di antaranya PT Sinergy Oil Nusantara, PT Citra Lautan Teduh, PT Pasifik Karya Sindo Perkasa, PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT), PT Servotech Indonesia, PT Tunas Group, dan PT Panasonic.

“Kami sedang dalam proses menuju PLTS untuk mendukung penerapan energi hijau,” katanya.

Diakuinya investasi di sektor energi hijau membutuhkan biaya yang besar. “Tapi perlahan kita akan beralih ke sana,” tambahnya. (gk)

Pos terkait