Koperasi Merah Putih Terancam Gagal Jika Didesain Instan Tanpa Kajian Mendalam

Ilustrasi

MRTROBATAM.COM, CIREBON — Gagasan pendirian Koperasi Merah Putih tengah ramai dibicarakan sebagai upaya mendorong gerakan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah. Namun, di balik semangat nasionalisme dan gotong royong yang diusung, muncul kekhawatiran dari sejumlah pihak bahwa koperasi ini bisa menjadi proyek gagal jika dibentuk secara tergesa-gesa tanpa perencanaan matang.

Wacana pendirian Koperasi Merah Putih mendapat sorotan publik karena dinilai terlalu cepat digagas tanpa kesiapan struktur organisasi, sumber daya manusia, dan strategi kelembagaan yang memadai. Pola seperti ini kerap disebut sebagai koperasi karbitan, yaitu koperasi yang dibentuk secara instan hanya demi pencitraan atau proyek jangka pendek.

Meski belum ada nama resmi yang mengaku sebagai inisiator tunggal, wacana ini telah didorong oleh beberapa tokoh dan kelompok masyarakat yang mengatasnamakan semangat nasionalisme ekonomi. Namun, menurut pengamat koperasi, pendekatan top-down tanpa basis partisipatif dari calon anggota berpotensi menciptakan kelembagaan semu.

Diskursus soal Koperasi Merah Putih mulai mencuat sejak pertengahan 2024 dan kini menjadi topik hangat di berbagai forum komunitas, terutama di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Sumatera. Cirebon menjadi salah satu daerah yang aktif membicarakan rencana tersebut.

Bacaan Lainnya

Data menunjukkan bahwa pembentukan koperasi secara instan sering kali berujung pada kegagalan. Berdasarkan catatan Kementerian Koperasi dan UKM, sepanjang 2014–2019, lebih dari 82.000 koperasi bermasalah dibubarkan karena tidak mampu menjalankan fungsi kelembagaan secara sehat. (Sumber: Tempo.co)

Tak hanya dari sisi kuantitas, kerugian finansial pun sangat besar. Misalnya, kasus KSP Sejahtera Bersama menimbulkan kerugian hingga Rp 8,8 triliun, sementara KSP Indosurya menyeret ribuan korban dengan dampak sosial dan psikologis yang luas. (Sumber: Beritakoperasi.com)

Bagaimana seharusnya koperasi dibentuk?

Menurut sejumlah pakar, koperasi idealnya lahir dari proses pendampingan dan penguatan kapasitas anggota, bukan semata-mata gagasan elite. Tahapan penting meliputi:

Pembinaan dan edukasi anggota

Pelatihan manajemen bagi pengurus

Penyusunan AD/ART yang kuat dan operasional

Penguatan sistem keuangan yang transparan dan akuntabel

Pendampingan dari pihak independen untuk pengawasan

Seorang pengamat koperasi yang diwawancarai secara terpisah menegaskan, “Membangun koperasi bukan soal siapa cepat berdiri, tapi siapa yang mampu bertahan dan tumbuh sehat. Koperasi instan umumnya rapuh dan berumur pendek.”

Apa dampaknya jika tetap dipaksakan?

Jika Koperasi Merah Putih hanya mengandalkan semangat dan nama besar, tanpa disertai sistem manajemen yang sehat, maka potensi kegagalan sangat tinggi. Dampak yang ditimbulkan tak hanya berupa kerugian materi, tapi juga hilangnya kepercayaan publik terhadap gerakan koperasi itu sendiri.

Koperasi Merah Putih semestinya menjadi simbol perjuangan ekonomi rakyat yang inklusif dan berkelanjutan — bukan sekadar proyek kebangsaan yang ambisius tapi minim substansi.

Penulis: JdR

Pos terkait