China-Rusia Gelar Latihan Bersama di Laut China Selatan

Chinese sailors march pass the Russian destroyer Admiral Vinogradov berthed at the People's Liberation Army (PLA) naval base in Qingdao, northeastern China's Shandong province on April 23, 2012, prior to the start of the Sino-Russian joint naval exercises. China and Russia launched their first joint naval exercises, with war games in the Yellow Sea that come amid tensions between China and its Asian neighbours over territorial claims. CHINA OUT AFP PHOTO / AFP PHOTO / STR

Metrobatam, Beijing – China dan Rusia siap melakukan war games di Laut China Selatan (LCS) yang akan dimulai pada Senin (12/9) siang waktu setempat. Latihan militer bersama selama delapan hari tersebut berfokus pada “perebutan serta kontrol” terhadap pulau-pulau.

Juru Bicara Angkatan Laut China, Liang Yang, menuturkan sejumlah alat utama sistem pertahanan akan diturunkan dalam latihan tersebut, seperti kapal laut, kapal selam, pesawat, helikopter, korps marinir, dan juga peralatan amfibi yang dimiliki oleh kedua negara.

Bacaan Lainnya

“Dibandingkan latihan militer sebelumnya, latihan kali ini lebih memfokuskan diri pada organisasi, tugas, dan komando. Kami akan bersama-sama melatih pertahanan, operasi penyelamatan, dan operasi anti-kapal selam,” tutur Liang Yang, seperti dimuat Xinhua, Senin (12/9).

Latihan bersama bertajuk ‘Joint Sea-2016’ itu akan diikuti oleh armada Nanhai di bawah Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN). Armada latihan Rusia dan China dilakukan di lepas pantai Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong yang menghadap ke arah Laut China Selatan. Lokasi latihan yang berada di Laut China Selatan dikhawatirkan akan menimbulkan ketegangan dalam sengketa wilayah tersebut.

Namun, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin memastikan, latihan bersama di Laut China Selatan tidak akan menggangu stabilitas kawasan. Sebagaimana diketahui, Negeri Tirai Bambu terlibat sengketa LCS dengan sejumlah negara, yakni Malaysia, Taiwan, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Filipina.

China mengklaim sebagian besar wilayah LCS berdasarkan sembilan garis putus-putus (nine dashed lines). Klaim China ditolak oleh Mahkamah Arbitrase Internasional (PCA) di Den Haag, Belanda pada 12 Juli 2016. Beijing menolak putusan PCA yang disebutnya tidak mengikat secara hukum.

China berulang kali menyatakan lebih senang konflik diselesaikan lewat jalur diplomasi dengan negara-negara claimant state di LCS.(mb/okezone)

Pos terkait