Realisasi APBN P 2016: Penerimaan Negara Rp 1.551 T, Defisit 2,46%

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) berbincang dengan Chairman of the World Islamic Economic Forum (WIEF) Foundation Tun Musa Hitam (kanan) dan Sekjen WIEF Tan Sri Dato Ahmad Fuzi Haji Abdul Razak (kiri) ketika menghadiri acara penutupan WIEF ke-12 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (4/8). WIEF ke-12 berlangsung dari 2-4 Agustus 2016. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/aww/16.

Metrobatam, Jakarta – Periode Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 telah selesai. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mencatat belanja negara sebesar Rp 1.859,5 triliun (89,3%).

Dengan penerimaan negara Rp 1.551,8 triliun (86,9%), maka defisit mencapai 2,46% terhadap PDB. “Defisit APBN P 2016 adalah sebesar 2,46%,” ungkap Sri Mulyani, dalam konferensi pers di Gedung Djuanda, Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (3/1).

Read More

Penerimaan negara meliputi perpajakan Rp 1.283,6 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 262,4 triliun, serta hibah Rp 5,8 triliun.

“Penerimaan pajak secara umum mengalami pertumbuhan 4,2%, namun kalau dilihat realisasinya lebih rendah Rp 33 triliun dari outlook yang telah disampaikan waktu saya baru menjadi Menkeu,” paparnya.

Realisasi APBN P 2016: Penerimaan Negara Rp 1.551 T dan Defisit 2,46%Foto: Maikel Jefriando

Belanja negara terdiri dari porsi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.148,6 triliun, yang meliputi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) dan non K/L. Selanjutnya transfer ke daerah sebesar Rp 710,9 triliun.

“Pada akhir tahun, dana transfer daerah yang tadinya ditunda sudah dibayarkan kembali keseluruhan,” tegas Sri Mulyani.

Realisasi ini masih dianggap angka sementara, karena sesuai dengan prosedur, realisasi harus diaudit terlebih dahulu oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK kemudian akan menyampaikan hasil audit yang biasanya terjadi pada pertengahan tahun. (mb/detik)

Related posts